
40.000 warga Palestina terjebak jam malam Israel di Tepi Barat, akses kebutuhan harian dibatasi

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 13 Agustus 2026 ini memperlihatkan permukiman Ganim di Tepi Barat. (Xinhua/Gil Cohen Magen)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Operasi militer Israel yang dilancarkan di Tepi Barat bagian selatan pada Rabu (19/8) memberlakukan jam malam terhadap sekitar 40.000 warga Palestina, sehingga membatasi akses mereka terhadap kebutuhan sehari-hari, kata badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Operasi ini menimbulkan dampak kemanusiaan langsung karena masyarakat tidak dapat mengisi kembali pasokan mereka, mengakses layanan esensial, atau sekadar pergi ke tempat kerja mereka," ungkap Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
OCHA mengatakan operasi yang dilancarkan di Adh Dhahiriya, Kegubernuran Hebron, sekitar 30 km di selatan Yerusalem, tersebut melibatkan sejumlah penembak jitu yang ditempatkan di atap-atap bangunan dan memblokade jalan dengan gundukan tanah. Para mitra memperkirakan sekitar 40.000 orang, termasuk anak-anak, tidak diizinkan meninggalkan rumah mereka.
Dalam pembaruan berita hariannya, OCHA menyebutkan bahwa mitra-mitranya melaporkan sekitar tujuh rumah warga Palestina juga digunakan sebagai pusat interogasi, setelah pasukan Israel mengurung sejumlah keluarga di dalam satu ruangan. Selain itu, beberapa penangkapan juga dilaporkan terjadi.
"Rumah-rumah dan keluarga-keluarga harus dilindungi, dan setiap operasi keamanan harus dilakukan dengan cara yang menghormati hukum internasional, termasuk perlindungan dan martabat warga sipil," ujar kantor PBB tersebut. "Kami dan para mitra kami terus memberikan dukungan vital bagi masyarakat di Tepi Barat."
Stephane Dujarric, juru bicara utama Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres, dalam sebuah taklimat pers rutin pada Rabu menyampaikan bahwa Guterres sangat prihatin atas laporan mengenai pos-pos permukiman ilegal baru Israel di Tepi Barat yang diduduki, serta mendesak Israel agar menahan diri untuk tidak mengambil langkah-langkah lebih lanjut terkait hal itu dan bertindak sesuai resolusi PBB yang relevan.
Di Gaza, OCHA mengatakan para mitranya melaporkan aktivitas militer Israel di area-area yang terletak di sebelah barat dari apa yang disebut sebagai Garis Kuning.
Menurut laporan awal setempat, serangan udara Israel pada Selasa (18/8) menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai beberapa lainnya di pelabuhan laut Gaza City.
"Insiden semacam itu jelas membahayakan warga sipil dan akan membatasi kemampuan mereka untuk mencari keselamatan, perawatan medis dan bantuan kemanusiaan," tutur OCHA.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Taiwan wajibkan informasi kandungan kafein pada produk minuman
Indonesia
•
28 Jun 2021

Akibat badai salju, ratusan penerbangan dibatalkan di bandara terbesar Jerman
Indonesia
•
19 Jan 2024

Turkiye akan kirim pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina jika diperlukan
Indonesia
•
08 Mar 2025

Kapal pertama angkut biji-bijian dari Ukraina akan berlabuh di Istanbul untuk pemeriksaan
Indonesia
•
02 Aug 2022


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
