
46.000 lebih unit sipil di Iran terkena serangan sejak awal konflik dengan AS-Israel

Warga menyingkirkan puing-puing di antara beberapa bangunan yang hancur di sebuah area permukiman di Teheran, Iran, pada 15 Maret 2026. (Xinhua/Shadati)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Total 46.370 unit sipil telah terdampak sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir bulan lalu, demikian disampaikan seorang pejabat tinggi organisasi penyelamatan Iran.
Di antara unit-unit sipil tersebut, sekitar 39.000 adalah unit hunian, ungkap Razieh Alishavandi, direktur Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran (Iranian Red Crescent Society/IRCS) untuk urusan internasional, kepada Xinhua dalam wawancara baru-baru ini.
Alishavandi mengatakan 6.851 unit komersial juga mengalami kerusakan, serta mengungkapkan penyesalan atas berkelanjutannya serangan terhadap target sipil.
Serangan-serangan tersebut juga berdampak pada fasilitas medis dan pendidikan, menghantam sekitar 236 pusat layanan farmasi, kesehatan, dan darurat, serta 120 sekolah dan lembaga pendidikan lainnya, kata Alishavandi.
Lebih lanjut dia menambahkan bahwa 17 pusat IRCS rusak, dan satu helikopter penyelamat milik IRCS hancur total akibat serangan. Sebanyak 35 kendaraan operasional, termasuk ambulans dan kendaraan penyelamatan, juga terkena serangan.
Alishavandi mengatakan 10 staf IRCS luka-luka akibat serangan dan satu orang tewas. Serangan terhadap pusat-pusat pendidikan menyebabkan 206 orang tewas dan 154 lainnya luka-luka. Alishavandi pun menambahkan bahwa 16 orang yang bekerja di sektor kesehatan tewas, sementara 96 lainnya terluka.
Alishavandi mengatakan IRCS setiap hari mencatat bukti pelanggaran hukum humaniter internasional yang dilakukan oleh AS dan Israel, kemudian mengirimkannya ke organisasi dan badan internasional.
"Dalam konflik bersenjata, warga sipil, seperti anak-anak, pelajar, dan warga lanjut usia (lansia), serta target-target, termasuk unit hunian dan sekolah, tidak boleh diserang," tuturnya.
Dia menambahkan bahwa IRCS sedang mengangkat isu ini melalui organisasi internasional dan mengharapkan perhatian serta pertanggungjawaban yang semestinya.
Alishavandi menyatakan kesiapan IRCS dalam menerima bantuan kemanusiaan internasional serta obat-obatan dan peralatan medis "yang tidak tersedia secara memadai di negara tersebut," seraya mengatakan bahwa obat-obatan untuk pasien kanker dan warga penderita penyakit langka juga termasuk dalam prioritas.
Namun demikian, Alishavandi menyampaikan apotek-apotek IRCS beroperasi sepanjang waktu, dan sejauh ini belum ada pasien yang kekurangan layanan atau obat-obatan.
Berkaitan dengan dukungan kesehatan mental, Alishavandi mengatakan IRCS telah meluncurkan saluran telekomunikasi langsung (hotline), yakni 4030, untuk menyediakan layanan psikologis.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota Iran lainnya, hingga menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta komandan tinggi militer dan warga sipil. Iran menanggapi dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset dan pangkalan AS di Timur Tengah.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Iran tegaskan AS tak akan menentukan akhir perang, ancam balas serangan Ukraina
Indonesia
•
28 Jul 2026

Akademisi dunia bahas perubahan peradaban, iklim, dan lingkungan Jalur Sutra
Indonesia
•
27 Aug 2023

Opini - Belum sampai ke pantai: Pelajaran dari kejatuhan Keir Starmer
Indonesia
•
26 Jun 2026

Rusia sebut tersangka serangan teror Moskow berencana kabur ke Kiev untuk terima imbalan
Indonesia
•
31 Mar 2024


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
