
50.000 orang turun ke jalan di Stockholm, tuntut Swedia lebih tegas hadapi perubahan iklim

Foto yang diabadikan pada 9 Februari 2026 ini memperlihatkan pemandangan Stockholm, ibu kota Swedia. (Xinhua/Zhu Haochen)
Helsinki, Finlandia (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari 50.000 orang melakukan aksi turun ke jalan di pusat kota Stockholm, ibu kota Swedia, pada Ahad (23/8) untuk menuntut tindakan yang lebih tegas terkait perubahan iklim, tiga pekan sebelum Swedia menggelar pemilihan umum (pemilu) nasional.
Sekitar 280 organisasi berpartisipasi dalam unjuk rasa tersebut, termasuk kelompok lingkungan hidup dan hak asasi manusia, serikat pekerja, organisasi keagamaan, para peneliti, serta kelompok budaya, menurut laporan-laporan media Swedia.
Beatrice Rindevall, ketua Perhimpunan Konservasi Alam Swedia sekaligus salah satu penyelenggara utama aksi tersebut, menyebutkan kepada media Swedia bahwa para pembuat kebijakan perlu menanggapi krisis iklim dengan serius.
Unjuk rasa tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian para pemilih terhadap isu perubahan iklim menjelang pemilu nasional bulan depan, sementara pandangan terhadap isu tersebut menjadi semakin terpolarisasi berdasarkan garis politik.
Sekitar 65 persen masyarakat yang mengidentifikasi diri sebagai pendukung sayap kiri menyatakan mereka sangat khawatir tentang perubahan iklim, dibandingkan dengan kurang dari 30 persen dari mereka yang berada di sayap kanan, menurut survei nasional terbaru yang dilakukan oleh SOM Institute, sebuah organisasi penelitian independen di Universitas Gothenburg.
Sebuah survei terpisah oleh lembaga survei Swedia, Novus, pada Juni menempatkan isu iklim di peringkat keenam di antara isu-isu politik paling penting bagi para pemilih, naik dari peringkat kesembilan pada Januari.
Martin Hultman, seorang profesor sosiologi di Universitas Gothenburg, mengatakan kepada surat kabar Swedia Dagens Nyheter bahwa Swedia mungkin sedang mengalami gelombang baru keterlibatan dalam isu iklim.
Dia menuturkan gelombang sebelumnya telah kehilangan momentum selama pandemi COVID-19 di tengah lobi industri bahan bakar fosil, disinformasi, dan kemenangan elektoral yang diraih oleh kelompok nasionalis sayap kanan.
Keterlibatan yang kembali meningkat ini sebagian dapat mencerminkan kenyataan bahwa masyarakat kini merasakan dampak perubahan iklim secara lebih langsung dalam kehidupan sehari-hari mereka, tuturnya.
Swedia akan menggelar pemilu untuk Riksdag, parlemen negara tersebut, serta dewan regional dan kota pada 13 September mendatang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pasukan keamanan hamas akan ditempatkan di Gaza usai diberlakukannya gencatan senjata
Indonesia
•
11 Oct 2025

Presiden Lebanon sebut hampir 18 persen wilayah negaranya rusak akibat perang
Indonesia
•
20 Jun 2026

Jubir Kemenlu China sebut AS sebagai tempat "berkembang biaknya" hoaks
Indonesia
•
16 Mar 2024

Militer Israel mobilisasi massal pasukan cadangan jelang perluasan serangan ke Gaza
Indonesia
•
05 May 2025


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
