90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual

Foto tak bertanggal ini menunjukkan sejumlah nelayan dan tangkapan ikan mereka di Deda Bonda, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. (https://bonda.digitaldesa.id/)

Tual, Maluku (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia dan China pada Kamis (24/9) meluncurkan program kerja sama perikanan tangkap di Tual, sebuah kota pesisir di Provinsi Maluku.

Lebih dari 100 perwakilan pemerintah, kalangan bisnis, dan asosiasi perikanan setempat dari kedua negara menghadiri upacara peluncuran di sebuah pelabuhan perikanan utama di dekat pertemuan Laut Banda dan Laut Arafura. Usai peluncuran, sejumlah kapal penangkap ikan modern membunyikan klakson dan bertolak menuju laut lepas.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan kepada Xinhua bahwa lima inisiatif ekonomi biru kementeriannya selaras dengan visi China untuk perikanan global yang berkelanjutan.

Dia menyampaikan bahwa Indonesia berharap dapat mempererat kerja sama dengan China di bidang perikanan tangkap, akuakultur, dan konservasi laut.

Li Hongwei, Minister-Counselor Kedutaan Besar China di Indonesia, dalam upacara tersebut menyatakan bahwa Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 yang diusulkan oleh China, sebuah komponen kunci dari Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative), sangat selaras dengan strategi Poros Maritim Dunia Indonesia. Kedua belah pihak terus mendorong penyelarasan strategi, rencana, industri, dan proyek guna membangun komunitas maritim dengan masa depan bersama, ujarnya.

Li mengatakan, China siap memanfaatkan peluncuran tersebut sebagai peluang untuk memperkuat kerja sama teknis, konservasi sumber daya, dan koordinasi di sepanjang rantai nilai perikanan bersama Indonesia.

Lebih dari 90 persen wilayah Provinsi Maluku merupakan lautan, dan masyarakat setempat sangat bergantung pada sumber daya kelautan serta perikanan.

Proyek ini akan meningkatkan rantai nilai untuk pendaratan ikan, penyimpanan rantai dingin, pengolahan, dan ekspor.

Berdasarkan informasi proyek, kegiatan ini diperkirakan akan menciptakan sekitar 1.100 lapangan kerja, baik di laut maupun di darat, sekaligus mendorong investasi pendukung di bidang perbaikan kapal, penyimpanan dingin, pengujian mutu, dan pelatihan keterampilan, membantu meningkatkan pendapatan dan standar hidup penduduk setempat.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait