
Korban ranjau di Afghanistan kecam perang, serukan perdamaian

Sejumlah pengguna kaki palsu berlatih dalam sesi fisioterapi di pusat rehabilitasi yang dijalankan oleh Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) di Kabul, Afghanistan, pada 26 November 2024. (Xinhua/Li Ang)
Afghanistan memiliki ranjau aktif paling banyak di dunia, dengan sisa-sisa pertikaian sipil dan perang yang berkecamuk selama lebih dari empat dekade mengancam akan merenggut nyawa setiap harinya.
Kabul, Afghanistan (Xinhua/Indonesia Window) – Saat dunia memperingati Hari Penyandang Disabilitas Internasional pada Selasa (3/12) untuk menyoroti hak-hak korban perang, warga Afghanistan yang cedera menyatakan kecaman mereka terhadap perang dan bahan peledak sebagai musuh manusia, seraya menyerukan perdamaian abadi di negara mereka yang hancur akibat perang."Saya benci ranjau dan benda-benda yang mudah meledak. Kepala saya pening setiap kali mendengar kata ranjau," ujar Ruqia, seorang gadis Afghanistan berusia 15 tahun yang kehilangan salah satu kakinya akibat ledakan ranjau darat, kepada Xinhua di sebuah pusat rehabilitasi yang dikelola oleh Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) di Kabul.Sambil mengungkapkan kebenciannya terhadap perang dan bahan peledak, Ruqia menceritakan kejadian traumatis yang telah mengubah hidupnya selamanya."Waktu itu, saya berusia lima tahun dan sedang dalam perjalanan dari Provinsi Ghor menuju Kabul ketika kendaraan kami menginjak ranjau darat. Ledakan itu membuat kaki saya putus," kenang Ruqia.
Seorang anak pengguna kaki palsu berlatih dalam sesi fisioterapi di pusat rehabilitasi yang dijalankan oleh Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) di Kabul, Afghanistan, pada 26 November 2024. (Xinhua/Saifurahman Safi)
Sejumlah staf membuat kaki palsu di pusat rehabilitasi yang dikelola oleh Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) di Kabul, Afghanistan, pada 26 November 2024. (Xinhua/Li Ang)
Seorang pria bekerja di pusat rehabilitasi yang dikelola oleh Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) di Kabul, Afghanistan, pada 26 November 2024. (Xinhua/Li Ang)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

NASA gunakan tanaman hias untuk bersihkan udara dalam kabin pesawat antariksa
Indonesia
•
29 May 2022

AP: Pembunuhan yang menarget polisi meningkat di AS
Indonesia
•
20 Oct 2022

Mayoritas remaja di AS senang ‘ngobrol’ dengan AI
Indonesia
•
22 Jul 2025

China berupaya bangun masyarakat digital yang inklusif bagi warga lansia
Indonesia
•
04 Apr 2023


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
