
AI hingga media sosial dimanfaatkan teroris, PBB dorong strategi pencegahan berbasis masyarakat

Pasukan Israel terlihat di dekat perbatasan dengan Jalur Gaza, di Israel selatan, pada 27 Mei 2024. (Xinhua/Gil Cohen Magen)
Kelompok-kelompok teroris kerap memanfaatkan ketidakstabilan, perkembangan teknologi yang tidak terkendali, serta kerentanan sosial dan ekonomi untuk menargetkan dan mengintimidasi kelompok rentan.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (12/2) memperingati Hari Internasional Pencegahan Ekstremisme Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (International Day for the Prevention of Violent Extremism as and when Conducive to Terrorism) keempat.
Dalam sebuah pernyataan, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres mengatakan kelompok-kelompok teroris kerap memanfaatkan ketidakstabilan, perkembangan teknologi yang tidak terkendali, serta kerentanan sosial dan ekonomi untuk menargetkan dan mengintimidasi kelompok rentan.
"Hari ini, kami menegaskan kembali tekad bersama kami untuk mencegah ekstremisme kekerasan dan melindungi masyarakat dari momok terorisme," ujarnya.
Guterres mengungkapkan baik Strategi Kontraterorisme Global PBB (UN Global Counter-Terrorism Strategy) maupun Rencana Aksi PBB untuk Mencegah Ekstremisme Kekerasan mengingatkan masyarakat bahwa langkah-langkah keamanan yang lebih kuat saja tidak cukup.
"Kita harus menangani akar permasalahan, melalui upaya-upaya baru untuk mengatasi ketidakpuasan dan kondisi yang kondusif bagi terorisme dengan memperkuat sistem pendidikan, memperluas ruang sipil, serta mendorong dialog dan kepercayaan di antara maupun di dalam komunitas," kata sang sekjen PBB.
Alexandre Zouev, pelaksana tugas under-secretary-general Kantor Kontraterorisme PBB (UN Office of Counter-Terrorism/UNOCT), menyebutkan teknologi baru dan emerging sedang mengubah tatanan masyarakat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang membawa berbagai peluang baru, tetapi juga risiko baru.
"Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), media sosial, aplikasi perpesanan terenkripsi, dan platform gim telah mengubah cara masyarakat terhubung serta membentuk identitas," yang semakin sering dimanfaatkan oleh kelompok teroris dan para aktor ekstremis kekerasan, tuturnya.
Dia menyebutkan upaya pencegahan, baik secara luring maupun daring, akan berjalan optimal jika didasarkan pada pendekatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan menangani berbagai ketidakpuasan yang ada. Dirinya juga menyerukan penguatan ketahanan digital dan memastikan inovasi dapat memperkuat kohesi sosial, alih-alih memicu perpecahan.
Dalam sebuah siaran pers, UNOCT menuturkan terorisme dan meluasnya ekstremisme kekerasan yang menjadi akar penyebabnya menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan, sekaligus merupakan bentuk penghinaan terhadap kemanusiaan.
Peringatan tahun ini berfokus pada persinggungan antara ekstremisme kekerasan yang mengarah pada terorisme dan teknologi baru serta emerging, menurut siaran pers tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Sekjen PBB peringatkan "kerusakan iklim telah dimulai"
Indonesia
•
08 Sep 2023

Thailand akan pertimbangkan gencatan senjata "berdasarkan kondisi di lapangan yang sesuai"
Indonesia
•
27 Jul 2025

Taiwan perpanjang izin pekerja migran satu tahun
Indonesia
•
01 Jun 2022

Portugal resmi akui Negara Palestina
Indonesia
•
23 Sep 2025


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
