
Fokus Berita – Sekjen PBB serukan aksi bersama atasi tantangan global yang saling terkait

Seorang pria mengikuti aksi unjuk rasa untuk memberikan dukungan bagi rakyat Palestina dan menentang perang di Jalur Gaza pada Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina di Umm al-Fahm, Israel, pada 29 November 2024. (Xinhua/Jamal Awad)
Ancaman yang dapat mengganggu setiap aspek agenda global, yakni konflik yang tak kunjung selesai, ketidaksetaraan yang merajalela, krisis iklim yang semakin parah, dan teknologi yang tidak terkendali.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Rabu (15/1) menyerukan aksi bersama untuk mengatasi berbagai tantangan yang saling terkait dan belum pernah terjadi sebelumnya di tengah kekacauan dunia."Dapat dimengerti jika kita merasa kewalahan dengan kekacauan yang terjadi di dunia. Namun, saat kita memandang ke depan untuk tahun yang akan datang, kita tidak boleh melupakan kemajuan dan potensi. Dan ada tanda-tanda harapan," kata Guterres dalam sambutannya tentang prioritas 2025 dalam pertemuan pleno Majelis Umum PBB."Aksi atau ketiadaan aksi kita telah membuka kotak Pandora modern yang penuh dengan berbagai masalah," tuturnya. "Empat masalah menonjol karena semua itu mewakili, setidaknya, ancaman yang dapat mengganggu setiap aspek agenda kita dan, yang paling buruk, membahayakan eksistensi kita, yakni konflik yang tak kunjung selesai, ketidaksetaraan yang merajalela, krisis iklim yang semakin parah, dan teknologi yang tidak terkendali."Sekjen PBB menyoroti bahwa dari Jalur Gaza, Ukraina, Sudan, hingga Yaman, konflik terus bertambah, menjadi semakin rumit dan mematikan, dan "perpecahan geopolitik dan ketidakpercayaan yang semakin dalam seolah menambah bahan bakar ke dalam bara api," dengan ancaman nuklir terasa paling intens dalam beberapa dekade ini.
Foto dari udara yang diabadikan menggunakan <em>drone</em> pada 25 April 2024 ini menunjukkan dasar danau yang sebagian mengering di Danau Patzcuaro, sebuah tempat pemancingan tradisional dan resor wisata di Michoacan, Meksiko. Kekeringan melanda beberapa wilayah di Meksiko akibat kenaikan suhu dan rendahnya curah hujan. (Xinhua/Li Mengxin)
Anak-anak berpose untuk difoto di sebuah kamp pengungsi di Kabul, Afghanistan, pada 19 November 2024. (Xinhua/Saifurahman Safi)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Prof. Dr. Yolanda Masnita Kembali Jabat Dekan FEB Universitas Trisakti
Indonesia
•
07 Jan 2025

Sejumlah provinsi di China perbarui peringatan merah di tengah suhu udara ekstrem
Indonesia
•
11 Jul 2023

Tim medis China tuai pujian atas upaya peningkatan perawatan kesehatan di RD Kongo
Indonesia
•
01 Feb 2024

Arab Saudi luncurkan program hadiah kurma mewah Ramadhan untuk 94 negara
Indonesia
•
02 Feb 2022


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
