
Belanda jadi negara Eropa pertama yang setujui sistem pengemudian otonomos Tesla

Para karyawan bekerja di Gigafactory Shanghai milik Tesla di Shanghai, China timur, pada 22 Desember 2023. (Xinhua/Fang Zhe)
Sistem pengemudian otonomos Tesla telah diteliti dan diuji secara ekstensif selama lebih dari satu setengah tahun di lintasan uji dan di jalan umum Belanda.
Den Haag, Belanda (Xinhua/Indonesia Window) – Belanda telah menyetujui sistem pengemudian otonomos dengan pengawasan dari produsen mobil listrik Amerika Serikat (AS), Tesla, sehingga menjadikannya negara Eropa pertama yang mengizinkan teknologi tersebut di jalan raya umum.
"Sistem bantuan pengemudi ini telah diteliti dan diuji secara ekstensif selama lebih dari satu setengah tahun di lintasan uji kami dan di jalan umum," kata Otoritas Kendaraan Belanda (RDW) dalam pernyataan yang diterbitkan pada Jumat (10/4) malam waktu setempat, menambahkan bahwa penggunaan sistem yang tepat dapat memberikan "kontribusi positif bagi keselamatan jalan raya."
Regulator tersebut menekankan bahwa kendaraan yang dilengkapi dengan sistem pengemudian otonomos penuh (full self-driving/FSD) yang diawasi bukanlah kendaraan otonom. Sistem ini diklasifikasikan sebagai fitur bantuan pengemudi, artinya pengemudi tetap sepenuhnya bertanggung jawab dan harus mempertahankan kendali setiap saat. "Ketika sistem mendeteksi bahwa pengemudi kurang waspada, berbagai sinyal akan diaktifkan, mengharuskan pengemudi untuk menunjukkan kewaspadaan," kata RDW.
Meskipun kendaraan Tesla yang dilengkapi dengan FSD telah diizinkan di Amerika Serikat selama beberapa waktu, RDW mengatakan bahwa sistem-sistem tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung karena kendaraan di Eropa menggunakan versi perangkat lunak yang berbeda dengan fungsi yang bervariasi.
Persetujuan ini dapat membuka jalan bagi penerapan yang lebih luas di seluruh Eropa. RDW mengatakan akan mengajukan permohonan ke Komisi Eropa, setelah itu negara-negara anggota Uni Eropa akan melakukan pemungutan suara mengenai apakah sistem tersebut diizinkan di seluruh blok.
Para ahli memperingatkan bahwa teknologi ini, meskipun menjanjikan, juga dapat menimbulkan risiko baru. Marieke Martens, profesor kendaraan otonom dan interaksi manusia di Universitas Teknologi Eindhoven, mengatakan kepada media lokal RTL News bahwa keselamatan lalu lintas dapat berubah akibat sistem semacam ini.
"Keselamatan lalu lintas bisa berubah. Sistem semacam ini dapat mencegah kesalahan manusia, tetapi mungkin kesalahan baru juga akan muncul, yang kemudian masih harus diperbaiki oleh manusia. Dalam kasus tersebut, sebenarnya hal ini menambah tugas ekstra dalam mengemudi," katanya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Galaksi Andromeda ternyata tumbuh dengan menelan galaksi lain, ini buktinya
Indonesia
•
06 Jun 2026

Orang bertubuh tinggi punya risiko lebih besar idap beragam penyakit
Indonesia
•
03 Jun 2022

Sistem AI dapat menilai manusia dan punya semacam "kepercayaan"
Indonesia
•
16 Apr 2026

China tuntaskan uji transposisi wahana antariksa gunakan lengan robotik
Indonesia
•
07 Jan 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
