Sekjen PBB serukan aksi di 3 area untuk cegah bencana senjata biologis

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres (depan) berbicara pada debat terbuka Dewan Keamanan tentang mengintegrasikan pembangunan ketahanan yang efektif dalam operasi perdamaian untuk perdamaian berkelanjutan di markas besar PBB di New York pada 3 November 2022. (Xinhua/UN Photo/Eskinder Debebe)
Bencana senjata biologis adalah bahaya yang jelas dan nyata, sehingga Konvensi Senjata Biologis menjadi lebih penting dari sebelumnya, seru Sekjen PBB.
PBB (Xinhua) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Senin (28/11) menyerukan aksi di tiga area untuk mencegah bencana senjata biologis.Guterres menyampaikan seruan itu dalam pesan video untuk para peserta Konferensi Peninjauan Konvensi Senjata Biologis ke-9 di Jenewa, Swiss.Area aksi pertama adalah memperkuat ketentuan perihal akuntabilitas konvensi tersebut untuk memastikan bahwa kemajuan ilmiah tidak dieksploitasi untuk tujuan-tujuan permusuhan, kata Guterres. "Mari kita pastikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk kebaikan umat manusia, bukan kehancurannya, dan bahwa perdamaian tetap menjadi inti dari semua pengembangan dan kerja sama ilmiah."Kedua, perbarui pemikiran tentang verifikasi dan kepatuhan agar sesuai dengan ancaman yang ada saat ini. Dunia telah berubah secara dramatis selama lima dekade terakhir. Konvensi pun harus ikut berubah bersama dunia, katanya.Ketiga, berikan konvensi tersebut sumber daya finansial dan manusia yang telah ditingkatkan, yang diperlukan untuk melaksanakan tugas penting ini, kata Guterres."Dunia dengan murah hati mendukung rezim global yang menentang senjata kimia dan proliferasi nuklir. Kita harus melakukan hal yang sama untuk senjata biologis dengan peningkatan anggaran konvensi yang signifikan," katanya. "Inilah saatnya untuk menutup semua jalur pengembangan dan penggunaan senjata-senjata ini."Lima puluh tahun yang lalu, ketika Konvensi Senjata Biologis dibuka untuk ditandatangani, komunitas global berdiri sebagai satu kesatuan dan menyatakan bahwa penggunaan penyakit sebagai senjata yang disengaja merupakan pelanggaran terhadap kemanusiaan. Konvensi itu memperkuat moral umat manusia, kata Guterres."Pandemi COVID-19 membuat dunia bertekuk lutut. Sekarang bayangkan adanya sebuah penyakit yang berbeda, yang dengan sengaja dirancang dan dapat menyebar ke populasi global dengan lebih cepat lagi," katanya. "Senjata biologis bukanlah produk fiksi ilmiah. Senjata itu adalah bahaya yang jelas dan nyata. Itulah mengapa memperkuat Konvensi Senjata Biologis menjadi lebih penting dari sebelumnya."Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Survei ungkap 80 persen lebih responden khawatir tentang potensi dampak penurunan tingkat kelahiran di Jepang
Indonesia
•
12 Jun 2024

Opini – Fenomena instagramxiety di kalangan pemuda masa kini
Indonesia
•
18 Mar 2022

Masjid Merah Putih hadir di Ronting, NTT
Indonesia
•
09 Sep 2019

Dukung upaya internasional, Rwanda turut kirim bantuan kemanusiaan ke Gaza
Indonesia
•
11 Nov 2024
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Antisipasi wabah Nipah, Singapura akan terapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026
