
Bersikap munafik, Trump tentang aneksasi Tepi Barat oleh Israel tapi dukung Netanyahu

Foto yang diabadikan pada 9 Februari 2026 ini menunjukkan permukiman Israel di Kota Hebron, Tepi Barat. Keputusan Israel belakangan ini untuk memperdalam kendali atas Tepi Barat dan memperluas permukiman Yahudi di wilayah tersebut telah memicu kekhawatiran luas di kalangan warga Palestina terkait potensi penyitaan tanah dan ancaman terhadap stabilitas regional. (Xinhua/Mamoun Wazwaz)
Israel merebut Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza dalam Perang Timur Tengah 1967, area-area yang secara luas diakui sebagai basis negara Palestina di bawah solusi dua negara.
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Seorang pejabat Gedung Putih pada Senin (9/2) menegaskan kembali bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tetap menentang aneksasi Tepi Barat oleh Israel, dua hari menjelang rencana kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington.
"Tepi Barat yang stabil membuat Israel tetap aman dan sejalan dengan tujuan pemerintahan ini untuk mencapai perdamaian di kawasan tersebut," ujar pejabat itu, seperti dikutip Reuters.
Trump telah berulang kali mengatakan dirinya tidak akan mengizinkan Israel menganeksasi Tepi Barat, yang dipandang sebagai "garis merah" bagi para pemimpin Arab dan merupakan elemen kunci dari kesepakatan damai rancangan AS yang mengakhiri konflik Israel-Palestina tahun lalu.
"Saya tidak akan mengizinkan Israel menganeksasi Tepi Barat. Saya tidak akan mengizinkannya. Itu tidak akan terjadi," ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih pada September.
Namun, laporan itu tidak menyebutkan Trump akan menghalangi semua perluasan permukiman, melainkan bahwa dia menentang aneksasi resmi wilayah itu.
Trump diperkirakan akan mengadakan pembicaraan dengan Netanyahu mengenai Iran di Gedung Putih pada Rabu (11/2), menurut pernyataan singkat dari kantor Netanyahu. Kedua pemimpin tersebut terakhir kali bertemu pada Desember.
Kabinet keamanan Israel pada Ahad (8/2) menyetujui keputusan untuk memperdalam kendali atas Tepi Barat dan memperluas permukiman Yahudi di sana, yang memicu kecaman luas.
Para menteri luar negeri dari delapan negara Arab dan Muslim pada Senin mengecam keras keputusan "ilegal" Israel yang bertujuan untuk memperkuat aktivitas permukiman. Kemudian, Uni Eropa (UE) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyuarakan kecaman atas langkah Israel itu, menyebutnya sebagai "langkah lain ke arah yang salah" dan "tidak memiliki keabsahan hukum."
Israel merebut Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza dalam Perang Timur Tengah 1967, area-area yang secara luas diakui sebagai basis negara Palestina di bawah solusi dua negara.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kanselir Jerman terbuka dengan kemungkinan pemungutan suara mosi percaya sebelum Natal
Indonesia
•
12 Nov 2024

Kementerian Saudi tetapkan interval waktu antara dua umroh 14 hari
Indonesia
•
30 Sep 2020

Kepala militer Israel sebut demiliterisasi Gaza tetap jadi tujuan utama
Indonesia
•
14 Feb 2026

‘France Libre’ jadi nama kapal induk bertenaga nuklir baru Prancis
Indonesia
•
19 Mar 2026


Berita Terbaru

AS intensifkan pengumpulan intelijen militer di lepas pantai Kuba
Indonesia
•
11 May 2026

Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"
Indonesia
•
11 May 2026

Para pemimpin ASEAN rilis pernyataan bersama soal krisis Timur Tengah di KTT ASEAN 2026
Indonesia
•
10 May 2026

AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi
Indonesia
•
08 May 2026
