Feature – ‘Tak sengaja ditemukan’, minum teh kini menjadi budaya di seluruh dunia

Ilustrasi. (Manki Kim on Unsplash)
Buku pertama tentang teh, ‘Chajing’ (Kitab Teh), ditulis oleh Lu Yu pada abad ke-8, yang menjelaskan berbagai aspek tentang teh, termasuk penanaman, pemrosesan, dan cara penyajiannya.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Sebuah legenda China menyebutkan, pada sekitar tahun 2737 Sebelum Masehi, Kaisar Shen Nong sedang berada di taman istana saat sepucuk daun jatuh ke dalam poci keramik yang berisi air mendidih. Tak berapa lama, air dalam poci yang awalnya disiapkan untuk sang kaisar berubah menjadi minuman yang harum dan menyegarkan.Kaisar terkesan dengan rasa dan efek yang dia rasakan setelah menyesap minuman ini. Sejak saat itu, teh mulai dikenal sebagai minuman yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.Zaman terus bergulir hingga tiba masa Dinasti Tang (618-907 M), saat teh menjadi minuman yang sangat populer di seluruh negeri China.Buku pertama tentang teh, ‘Chajing’ (Kitab Teh), ditulis oleh seorang penulis dan ahli teh, Lu Yu, pada abad ke-8. Buku ini menjelaskan berbagai aspek tentang teh, termasuk penanaman, pemrosesan, dan cara penyajiannya. Teh juga menjadi bagian penting dari kebudayaan China, terutama dalam upacara-upacara dan ritual keagamaan.Penyebaran teh ke JepangPada abad ke-9, teh memulai perjalanannya ke luar China. Berkat biksu-biksu Buddha yang belajar di China, teh akhirnya tiba di Jepang, yang dengan cepat diterima oleh masyarakat setempat, terutama kalangan bangsawan dan biksu. Teh matcha, atau teh hijau bubuk, menjadi sangat populer dan memainkan peran penting dalam upacara minum teh Jepang yang dikenal sebagai ‘chanoyu’. Upacara ini menekankan aspek spiritual dan estetika dari minum teh, dan menjadi bagian integral dari budaya Jepang.Teh di Asia Selatan dan Timur TengahTeh juga menyebar ke wilayah Asia Selatan dan Timur Tengah melalui jalur perdagangan. Pada abad ke-16, teh mulai dikenal di Persia (Iran) dan menjadi minuman populer di sana. Di India, teh baru dikenal secara luas pada abad ke-19 ketika British East India Company mulai membudidayakan tanaman teh di wilayah Assam dan Darjeeling. Perusahaan ini berperan penting dalam mempopulerkan teh di India dan juga di Eropa.Teh di Eropa dan AmerikaDi Eropa, teh diperkenalkan oleh para pedagang Portugis pada abad ke-16. Pada abad ke-17, teh mulai diimpor dalam jumlah besar oleh Dutch East India Company dan kemudian oleh British East India Company. Teh segera menjadi minuman favorit di Inggris, dan pada abad ke-18, minuman ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Inggris, terutama dengan adanya tradisi ‘afternoon tea’.Di Amerika, teh juga menjadi populer pada abad ke-18, tetapi mengalami penurunan sementara dalam popularitasnya setelah peristiwa ‘Boston Tea Party’ pada tahun 1773. Peristiwa ini merupakan protes terhadap pajak teh yang dikenakan oleh Inggris, dan menjadi salah satu pemicu Revolusi Amerika.Teh modernSaat ini, teh dinikmati oleh orang-orang di seluruh dunia dalam berbagai bentuk dan rasa. Ada empat jenis utama teh yang dikenal, yaitu teh hitam, teh hijau, teh putih, dan teh oolong, yang semuanya berasal dari tanaman Camellia sinensis tetapi diproses dengan cara yang berbeda. Selain itu, ada juga teh herbal yang dibuat dari berbagai tanaman selain Camellia sinensis.Teh tidak hanya dinikmati sebagai minuman, tetapi juga memiliki manfaat kesehatan yang diakui secara luas. Teh mengandung antioksidan dan senyawa lain yang dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi risiko kanker, dan meningkatkan fungsi otak.Dalam beberapa dekade terakhir, popularitas teh terus meningkat dengan munculnya berbagai inovasi seperti teh es, teh bubble, dan teh dengan berbagai rasa buah. Teh tetap menjadi bagian penting dari budaya dan tradisi di banyak negara, dan terus berkembang seiring dengan perubahan zaman dan selera masyarakat.Dengan sejarah yang kaya dan manfaat yang beragam, teh tidak hanya sekedar minuman, tetapi juga sebuah simbol dari warisan budaya yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.Dari berbagai sumberLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Pakar Denmark: Kewajiban tes negatif COVID-19 bagi pelancong China "tak masuk akal"
Indonesia
•
06 Jan 2023

Forum Pasifik: Sains dan data harus jadi pedoman pembuangan air limbah nuklir Fukushima
Indonesia
•
26 Feb 2023

New Taipei akan menjadi kota dwibahasa pada 2030
Indonesia
•
22 Aug 2020

450 ribu jamaah umroh dipulangkan selama pandemik
Indonesia
•
29 May 2020
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026
