
Laporan ungkap fakta tentang AS sebagai kerajaan peretas

Gedung Putih diselimuti kabut asap di Washington DC, Amerika Serikat (AS), pada 29 Juni 2023. Lebih dari 120 juta orang di lebih dari 12 negara bagian AS dari Midwest hingga East Coast berada di bawah peringatan kualitas udara pada Kamis (29/6), saat asap dari kebakaran hutan Kanada terus menyebar ke seluruh negara itu. (Xinhua/Aaron Schwartz)
Central Intelligence Agency (CIA), salah satu badan intelijen utama pemerintah federal Amerika Serikat, secara aktif berupaya membangun kembali jaringan mata-matanya di China dan "telah mencapai beberapa kemajuan" dalam upaya itu.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah laporan investigasi dirilis baru-baru ini terkait Central Intelligence Agency (CIA), salah satu badan intelijen utama pemerintah federal Amerika Serikat (AS), yang mengungkap sebuah "kerajaan peretas" (empire of hackers) di bawah manipulasi AS.Selama kurun waktu yang lama, CIA diam-diam merekayasa "evolusi damai" dan "revolusi warna" di seluruh dunia, papar laporan dari Pusat Tanggap Darurat Virus Komputer Nasional (National Computer Virus Emergency Response Center) China dan perusahaan keamanan internet 360."AS sendiri menjalankan sistem pengawasan terbesar," kata CEO Institut Penelitian & Pengembangan Peradaban Ekologis Asia yang berbasis di Islamabad, Pakistan, Shakeel Ahmad Ramay.China menjadi salah satu target utama serangan siber AS, imbuhnya.Bulan lalu, Direktur CIA AS William Burns mengungkapkan bahwa badan intelijen tersebut secara aktif berupaya membangun kembali jaringan mata-matanya di China dan "telah mencapai beberapa kemajuan" dalam upaya itu.Pada 2022, Northwestern Polytechnical University di China menjadi korban serangan siber dari luar negeri.Semua petunjuk mengarah pada Kantor Operasi Akses Khusus (Tailored Access Operation/TAO), sebuah unit pengumpulan intelijen perang siber yang terafiliasi dengan Badan Keamanan Nasional (National Security Agency/NSA) AS, sebagai pelaku serangan tersebut."Kendali penuh atas sistem internet global menjadi salah satu fondasi paling penting dari strategi kepemimpinan global AS. Bahkan hingga saat ini, AS secara umum masih mempertahankan kendali atas sistem aliran data di seluruh dunia," terang Kepala Harici Media, Turkiye, Tunc Akkoc.Tahun ini juga menandai 10 tahun penguakan informasi yang dilakukan Edward Snowden, mantan pegawai kontrak CIA.Pada 2013, Snowden keluar dari AS dengan membawa sejumlah besar dokumen rahasia, mengungkapkan kepada pers tentang detail pengawasan internet dan telepon yang ekstensif oleh intelijen Amerika.Dan pada April tahun ini, satu set dokumen dengan kerahasiaan tingkat tinggi dari Pentagon AS dibeberkan secara daring, yang merupakan sebuah kebocoran keamanan. Dokumen tersebut berisi data sangat rahasia dan ekstensif terkait sekutu-sekutu Amerika, termasuk Ukraina, Korea Selatan, dan Israel.“Amerika selalu melakukan spionase. Amerika mencoba memata-matai teman, lawan, maupun musuh, semuanya. Dan ini telah terjadi dalam waktu yang sangat, sangat lama,” kata research fellow senior di Institut Kajian Kebijakan, Islamabad, Tughral Yamin.Dia menambahkan, “Hal ini menunjukkan hegemoni AS. AS merupakan sebuah hegemoni besar. Dan negara-negara kuat yang perkasa bisa lolos dengan apa pun yang mereka lakukan. Tidak ada standar. Tidak ada pertanggungjawaban.”Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pentagon akan luncurkan tinjauan baru terhadap penarikan pasukan AS dari Afghanistan
Indonesia
•
23 May 2025

Iran desak Washington kembali ke perjanjian nuklir 2015
Indonesia
•
07 Feb 2021

Para menteri kehakiman UE bahas kerja sama perangi kejahatan lintas perbatasan
Indonesia
•
29 Jan 2023

Arab Saudi kecam Israel bangun 800 permukiman baru di Tepi Barat
Indonesia
•
13 Jan 2021


Berita Terbaru

AS intensifkan pengumpulan intelijen militer di lepas pantai Kuba
Indonesia
•
11 May 2026

Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"
Indonesia
•
11 May 2026

Para pemimpin ASEAN rilis pernyataan bersama soal krisis Timur Tengah di KTT ASEAN 2026
Indonesia
•
10 May 2026

AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi
Indonesia
•
08 May 2026
