COVID-19 – Kanada setujui dosis ‘booster’ bivalen pertama

Seorang tenaga kesehatan menyuntikkan satu dosis vaksin COVID-19 kepada seorang peserta vaksinasi di sebuah klinik vaksinasi di Toronto, Kanada, pada 4 April 2022. (Xinhua/Zou Zheng)
Health Canada menyetujui versi adaptasi dari vaksin COVID-19 Moderna Spikevax yang menargetkan virus orisinal SARS-CoV-2 dari 2019 dan varian Omicron (BA.1).
Ottawa, Kanada (Xinhua) – Badan kesehatan masyarakat Health Canada pada Kamis (1/9) menyetujui versi adaptasi dari vaksin COVID-19 Moderna Spikevax yang menargetkan virus orisinal SARS-CoV-2 dari 2019 dan varian Omicron (BA.1).Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh badan tersebut, vaksin yang dikenal sebagai vaksin ‘bivalen’, sudah mendapatkan izin untuk digunakan sebagai dosis penguat (booster) pada individu berusia 18 tahun ke atas.Ini merupakan vaksin COVID-19 bivalen pertama yang mendapat persetujuan di Kanada, sebut Health Canada, seraya menambahkan bahwa dosis booster Moderna Spikevax bivalen itu aman dan efektif dengan efek samping ringan serupa yang dapat membaik dengan cepat.Hasil uji klinis menunjukkan bahwa dosis booster vaksin Moderna Spikevax bivalen memicu respons kekebalan yang kuat terhadap Omicron (BA.1) dan galur virus orisinal SARS-CoV-2, tambah badan kesehatan masyarakat tersebut.Ditemukan pula bahwa dosis booster itu mampu menghasilkan respons imun yang baik terhadap subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, dan diperkirakan dapat memperpanjang daya tahan perlindungan, papar Health Canada.Vaksinasi lawan OmicronSelain Kanada, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Food and Drug Administration/FDA) Amerika serikat (AS) pada Rabu (31/8) juga menyetujui suntikan penguat (booster) vaksin COVID-19 yang diperbarui buatan Moderna dan Pfizer-BioNTech yang menargetkan subvarian Omicron.Suntikan booster yang diperbarui tersebut mengandung dua komponen mRNA dari virus SARS-CoV-2, yakni satu komponen dari galur pertama SARS-CoV-2 dan satu komponen lainnya merupakan komponen yang umum ditemukan di antara subvarian BA.4 dan BA.5 dari varian Omicron SARS-CoV-2, menurut FDA.Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sekarang ini menjadi penyebab mayoritas kasus COVID-19 di AS, dan diperkirakan akan menyebar pada musim gugur dan musim dingin tahun ini, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS.Direktur Jenderal Organsisai Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan di Jenewa, Swiss pada Rabu (31/8) mengatakan, subvarian Omicron saat ini lebih menular dibandingkan pendahulunya, dan risiko kemunculan varian yang lebih menular dan lebih berbahaya masih ada. Kendati demikian, cakupan vaksinasi di kalangan orang yang paling rentan masih terlalu rendah, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah.“Bahkan di negara-negara berpenghasilan tinggi, 30 persen tenaga kesehatan dan 20 persen lansia masih belum divaksinasi. Kesenjangan vaksinasi ini menimbulkan risiko bagi kita semua. Jadi, tolong lakukan vaksinasi jika Anda belum mendapatkannya, dan dapatkan suntikan penguat (booster) jika Anda dianjurkan menerimanya,” kata Tedros, seraya menganjurkan agar masyarakat memakai masker saat berada di dalam ruangan yang ramai.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Sekjen PBB sebut polusi udara sebagai keadaan "darurat global"
Indonesia
•
09 Sep 2023

Media: Akademisi muda Jepang pindah ke China untuk peluang yang lebih baik
Indonesia
•
20 Oct 2022

Setelah 150 jam tertimbun, seorang penyintas gempa Turkiye selamat
Indonesia
•
13 Feb 2023

Patung-patung perunggu kuno unik ditemukan di spa termal di Tuscany, Italia
Indonesia
•
10 Nov 2022
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026
