
COVID-19 – Kekebalan kawanan Jepang hampir 90 persen setelah gelombang omicron

Para pejalan kaki yang memakai masker melintas di sebuah jalan di Tokyo, Jepang, pada 29 Juli 2022. (Xinhua/Zhang Xiaoyu)
Kekebalan kawanan Jepang terhadap COVID-19 mendekati 90 persen setelah hantaman gelombang omicron yang hampir melumpuhkan sistem kesehatan negara Asia Timur itu, dengan rekor kasus baru harian tertinggi sebanyak 255.534 pada 18 Agustus lalu.
Jakarta (Indonesia Window) – Tingkat kekebalan populasi Jepang terhadap COVID-19 telah mencapai sekitar 90 persen di wilayah populasi utama setelah gelombang omicron baru-baru ini, meskipun tingkat perlindungan itu kemungkinan akan berkurang dalam hitungan bulan, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada Selasa (27/9).Tingkat yang disebut "kekebalan kawanan" itu mencerminkan perlindungan parsial yang diberikan dari infeksi alami dan vaksinasi, menurut Tokyo Foundation of Policy Research, yang memperkirakan tingkat tersebut untuk 12 prefektur terpadat di Jepang.Orang-orang di Tokyo, Osaka, dan prefektur selatan Okinawa mendapatkan sebagian besar kekebalan mereka melalui penularan di tengah jumlah kasus yang tinggi di daerah-daerah itu, terutama selama gelombang infeksi ketujuh yang memuncak bulan lalu, para peneliti menemukan.Sekitar 65 persen populasi Jepang telah menerima setidaknya satu suntikan vaksin COVID-19, dibandingkan dengan sekitar 33 persen di Amerika Serikat, berdasarkan data pemerintah.Jepang pekan lalu mulai mendistribusikan suntikan booster yang diformulasikan untuk menargetkan strain virus omicron.Jepang saat ini membutuhkan interval lima bulan untuk suntikan booster, meskipun itu mungkin terlalu lama untuk menawarkan perlindungan kepada kelompok lanjut usia dan rentan jika gelombang kedelapan yang diproyeksikan muncul menjelang akhir tahun, tulis para peneliti.Gelombang ketujuh
Jepang mencatat lebih dari 6 juta kasus baru COVID-19 dalam sebulan terakhir (pertengahan Juli-Agustus), dengan lebih dari 200 kematian harian dilaporkan dari 11 hari hingga 18 Agustus lalu.Lonjakan kasus yang dipicu oleh gelombang ketujuh wabah ini kian membebani sistem kesehatan negara itu.Jepang mencatat rekor kasus harian tertinggi 255.534 kasus baru COVID-19 pada 18 Agustus, kali kedua jumlah kasus baru dalam satu hari melebihi angka 250.000 sejak pandemik melanda negara itu. Sebanyak 287 orang dilaporkan meninggal, sehingga total kematian menjadi 36.302.Negeri Sakura melaporkan 1.395.301 kasus dalam sepekan dari 8 hingga 14 Agustus, mencatatkan rekor jumlah kasus baru tertinggi di dunia selama empat pekan berturut-turut, diikuti oleh Korea Selatan dan Amerika Serikat, seperti dilansir media setempat Kyodo News mengutip pembaruan data virus corona mingguan terkini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).Banyak warga setempat yang mengalami infeksi ringan melakukan karantina di rumah, sedangkan mereka yang melaporkan gejala serius harus berjuang keras untuk dapat dirawat inap.
Para pejalan kaki yang memakai masker melintas di sebuah jalan di Tokyo, Jepang, pada 29 Juli 2022. (Xinhua/Zhang Xiaoyu)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Huawei berencana kembangkan 50.000 talenta TIK di Asia Selatan
Indonesia
•
06 Apr 2023

Atasi kekurangan tenaga kerja, Jepang naikkan usia pensiun PNS
Indonesia
•
02 Apr 2023

China catat rekor tertinggi perjalanan penumpang selama libur May Day 2026
Indonesia
•
07 May 2026

Forum Pengungsi Global 2023 dibuka di Jenewa
Indonesia
•
14 Dec 2023


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
