Di Amaliah Astra Awards 2025, menag tegaskan peran strategis masjid bagi umat

Penganugerahan Amaliah Astra Award 2025 di Jakarta pada 14 Januari 2026. (Kementerian Agama RI)

Yayasan Amaliah Astra patut dicontoh terutama dalam penyelenggaraan acara Amaliah Astra Awards bukan hanya oleh perusahaan, tetapi juga oleh institusi pemerintah.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Masjid harus berperan lebih luas dari sekadar tempat ibadah ritual, kata Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar pada acara Amaliah Astra Awards 2025 yang diselenggarakan oleh Yayasan Amaliah Astra (YAA) di Astra Tower, Jakarta, Rabu (14/1).

Menurut Menag Nasaruddin Umar, masjid memiliki fungsi strategis sebagai pusat pemberdayaan, penguatan kemanusiaan, serta ruang perjumpaan seluruh lapisan masyarakat.

Amaliah Astra Awards merupakan penghargaan tahunan bagi pengelolaan masjid dan mushala terbaik, baik di lingkungan PT Astra International Tbk (Astra Group) maupun di masyarakat umum.

Tahun ini, ajang tersebut memasuki penyelenggaraan kelima dan mencatat peningkatan partisipasi yang signifikan, ungkap Kementerian Agama RI dalam situs jejaringnya yang dikutip Indonesia Window pada Kamis.

“Apa yang dilakukan oleh Yayasan Amaliah Astra ini patut dicontoh, bukan hanya oleh perusahaan, tetapi juga oleh institusi pemerintah,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Menag menjelaskan, sejak masa Rasulullah ﷺ, Masjid Nabi telah difungsikan sebagai pusat kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan bahwa Masjid Nabi hanya sekitar 20 persen digunakan untuk ibadah ritual, sementara selebihnya dimanfaatkan untuk urusan sosial, pendidikan, hingga pemerintahan.

“Masjid adalah meeting point antara hamba dengan Tuhannya. Problem apa pun yang kita hadapi, selesaikan di atas sajadah. Seberat apa pun persoalan, jika diselesaikan di tempat yang sakral, maka akan terasa ringan,” tuturnya.

Lebih lanjut, menag menyebut Masjid Nabi juga berfungsi sebagai sekretariat negara, pengadilan, lembaga pendidikan formal dan nonformal, balai keterampilan, pusat informasi perdagangan, hingga ruang pertemuan lintas agama.

Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa masjid merupakan simbol kemanusiaan yang inklusif.

“Masjid bukan hanya rumah umat Islam, tetapi rumah kemanusiaan. Karena itu, ke depan kita tidak hanya mengurus masjid, tetapi juga rumah-rumah ibadah lainnya, dengan tujuan yang sama, yakni membebaskan kemiskinan dan memberdayakan umat,” tegasnya.

Menag juga mendorong pengelolaan keagamaan yang lebih produktif melalui optimalisasi zakat dan wakaf yang telah difasilitasi negara, sehingga dana umat tidak bersifat konsumtif, melainkan mampu memberikan dampak sosial yang berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Astra, Boy Kelana Soebroto, menyampaikan bahwa Amaliah Astra Awards 2025 diikuti oleh 537 masjid, meningkat sekitar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya antusiasme dan kesadaran pengelola masjid dalam menghadirkan manfaat bagi jamaah dan masyarakat.

Ketua Pembina Yayasan Astra, Gita Tiffany Boer, menambahkan bahwa pembinaan masjid di lingkungan Astra diarahkan agar masjid tidak hanya makmur secara fisik, tetapi juga mampu membawa semangat, inspirasi, serta keseimbangan spiritual di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari.

Amaliah Astra Awards telah digelar secara konsisten selama lima tahun terakhir, termasuk pada masa pandemi Covid-19 melalui format daring.

Program tersebut dinilai menjadi praktik baik kolaborasi dunia usaha dalam memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat yang inklusif dan berorientasi masa depan.

Laporan: Redaksi

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait