
KLHK RI selidiki pelanggaran pemanfaatan lahan pascabanjir Jakarta

Anak-anak berjalan menerobos banjir usai hujan lebat dan meluapnya Sungai Ciliwung di Jakarta pada 3 Maret 2025. (Xinhua/Rahmat Dian P.)
Dugaan pelanggaran hukum lingkungan diyakini berkontribusi terhadap banjir yang terjadi baru-baru ini di Jakarta dan daerah-daerah di sekitarnya selama dua hari terakhir.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI) menginspeksi area-area hulu sungai di Provinsi Jawa Barat pada Kamis (6/3) dan menemukan sejumlah dugaan pelanggaran hukum lingkungan, yang diyakini berkontribusi terhadap banjir yang terjadi baru-baru ini di Jakarta dan daerah-daerah di sekitarnya selama dua hari terakhir.KLHK memasang empat papan pengawasan lingkungan di lahan-lahan yang fungsinya telah diubah, sehingga tidak dapat menahan air. Para pemilik lahan memanfaatkan area tersebut tanpa mengantongi izin lingkungan yang diperlukan.Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa sebanyak 33 lokasi lainnya di area hulu sungai, yang berlokasi di wilayah Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, juga menunjukkan tanda-tanda adanya pelanggaran hukum lingkungan."Kami akan segera menaikkan status kasus ini ke tahap penyelidikan, mengingat kondisi alam secara kuat mengindikasikan bahwa perubahan-perubahan dalam perencanaan tata ruang menyebabkan banjir," ujar Hanif dalam inspeksi tersebut.Dia menyampaikan bahwa segala perubahan terkait fungsi lahan harus didukung oleh analisis ilmiah yang mendalam, terutama di zona-zona hulu sungai yang berfungsi sebagai area tangkapan air tanah.Menurut data KLHK, seluas 15.000 hektare lahan di area hulu Sungai Ciliwung seharusnya dialokasikan untuk kawasan lindung, taman nasional, hutan produksi, sumber mata air, dan permukiman terbatas. Namun, sejak 2022, sekitar 8.000 hektare lahan telah dialihfungsikan untuk tujuan budi daya tanaman dan permukiman.Selain itu, lahan seluas 3.203,24 hektare di area hulu sungai telah mengalami degradasi kritis, yang menimbulkan risiko tanah longsor dan erosi hingga 180 ton per hektare setiap tahunnya.Banjir yang terjadi baru-baru ini, yang dipicu oleh meluapnya sungai Ciliwung dan Cisadane yang berhulu dari wilayah Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, telah berdampak pada Jakarta dan kota-kota satelit di sekitarnya mulai Selasa (4/3) hingga Rabu (5/3).Bencana itu merenggut tiga nyawa, memaksa evakuasi besar-besaran, dan mengganggu aktivitas bisnis, terutama transportasi barang.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Indonesia gagas forum kerja sama dengan Visegrád
Indonesia
•
19 Sep 2019

Kedubes China untuk Indonesia: Pengumuman AS mengenai "klaim maritim ekspansif China" di Laut China Selatan adalah bohong
Indonesia
•
28 Aug 2023

Indonesia di antara IFC dan ReCAAP
Indonesia
•
06 May 2020

KBRI Moskow undang pengusaha Rusia investasi di pembangunan IKN
Indonesia
•
20 Jul 2023


Berita Terbaru

Indonesia jajaki kerja sama AI pertanian dengan Guangxi, China
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kedubes Iran kecam AS, Israel atas serangan yang tewaskan 175 siswi tak berdosa
Indonesia
•
15 Mar 2026

Ramadan 1447H – Ketua Al-Bahjah Bogor: Perkuat aqidah, AI tantangan serius generasi muda Islam
Indonesia
•
14 Mar 2026

Presiden Prabowo serahkan lahan 90 ribu hektare di Sumatra untuk konservasi gajah
Indonesia
•
13 Mar 2026
