
Ahli: Penarikan diri dari perdagangan berisiko timbulkan isolasi dan konflik

Orang-orang mengunjungi paviliun Inggris dalam ajang Pameran Produk Konsumen Internasional China (China International Consumer Products Expo/CICPE) kelima di Haikou, Provinsi Hainan, China selatan, pada 13 April 2025. (Xinhua/Pu Xiaoxu)
Eskalasi tarif perdagangan yang baru-baru ini diberlakukan oleh Amerika Serikat telah merusak posisi global negara tersebut, karena memaksa negara-negara lain untuk meninjau ulang aliansi yang ada, mempertimbangkan kembali aturan internasional yang berlaku, dan menentukan arah aliansi strategis mereka.
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Ketika negara-negara menarik diri dari perdagangan, mereka cenderung mengisolasi diri, memperburuk titik-titik perbedaan dan meningkatkan risiko konflik global. Hal tersebut disampaikan Ollie Shiell, CEO Komite Nasional Inggris untuk Urusan China (UK National Committee on China/UKNCC), dalam sebuah wawancara dengan Xinhua pada Selasa (15/4).Mengomentari eskalasi tarif perdagangan yang baru-baru ini diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS), Shiell menyebut bahwa bukti historis menunjukkan tarif jarang menjadi alat yang efektif untuk menyelesaikan perselisihan internasional. Sebaliknya, langkah-langkah seperti itu justru kerap mengarah pada "perlombaan menuju ke bawah" (race to the bottom). Race to the bottom merupakan fenomena perlombaan antarnegara untuk menurunkan standar sosial, lingkungan, atau ekonomi demi menarik investasi dan bisnis."Menurut saya, pendekatan Presiden AS Donald Trump sangat tumpul dan kacau. Dia bisa menangani masalah ini dengan lebih konstruktif, alih-alih menciptakan destabilisasi global yang masif ini," kata Shiell.Menurut pendapatnya, tarif tersebut telah merusak posisi global AS, karena memaksa negara-negara lain untuk meninjau ulang aliansi yang ada, mempertimbangkan kembali aturan internasional yang berlaku, dan menentukan arah aliansi strategis mereka."Kalangan bisnis membutuhkan rencana, tetapi sangat sulit untuk membuat rencana dalam lingkungan seperti ini," imbuhnya.Shiell menolak anggapan bahwa globalisasi sedang mengalami penurunan. "Menurut saya, globalisasi terus berkembang, dan berkembang sebagai konsekuensi dari kebangkitan China," ujarnya.Shiell menegaskan bahwa China sekarang memiliki kesempatan yang signifikan untuk menunjukkan dirinya sebagai aktor global yang lebih bertanggung jawab dibandingkan dengan yang lain. Dia menggambarkan bahwa China lebih konsisten, lebih dapat diprediksi, dan mampu menghasilkan nilai di seluruh dunia. "Oleh karena itu, saya rasa globalisasi akan terus berlanjut, namun akan beradaptasi sesuai dengan perkembangan zaman," imbuhnya.Selain itu, Shiell menyoroti potensi kontribusi China di sejumlah bidang global utama seperti perdagangan, perubahan iklim, kesehatan, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).Merefleksikan transformasi China selama empat dekade terakhir, dia mengatakan China telah bergeser "dari pabrik ke algoritma," seraya menggambarkan perkembangannya sebagai sesuatu yang luar biasa.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Indonesia harapkan peningkatan volume ekspor produk laut ke pasar China
Indonesia
•
11 Nov 2023

Whoosh telah layani 10.000 lebih penumpang prioritas
Indonesia
•
29 Sep 2024

Hampir seratus pengusaha ikut Bogor UMKM Fest 2024, promosikan potensi lokal
Indonesia
•
10 Aug 2024

Industri otomotif Jerman pangkas 51.000 lebih pekerjaan akibat tarif AS dan permintaan lesu
Indonesia
•
27 Aug 2025


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
