Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek

Pernak-pernik Tahun Baru Imlek terlihat di sebuah toko di Glodok, Jakarta, pada 10 Januari 2026. (Xinhua/Indalia Jayadinata)
Dracin menghadirkan gambaran Imlek di China dengan jamuan keluarga besar, pakaian tradisional, hingga suasana kampung halaman yang mengandung makna emosional.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Kurang dari sebulan sebelum Tahun Baru Imlek, kawasan Glodok di Jakarta Barat kembali berubah wajah. Lampion merah bergantungan di sepanjang jalan, lagu-lagu tradisional berbahasa Mandarin bernuansa tahun baru diputar, dan deretan toko dipenuhi pernak-pernik shio kuda.
Namun, di balik nuansa tradisional itu, terdengar alunan musik Mandarin modern, dekorasi Imlek yang lebih minimalis, dan pakaian tradisional China dengan warna pastel kekinian. Hal-hal tersebut tidak asing di mata generasi muda, karena kerap muncul dalam drama China, yang populer dengan sebutan dracin.
Di kawasan Pecinan tertua di Indonesia itu, perayaan Imlek mengalami transformasi halus. Tradisi yang berakar dari budaya China klasik kini berdampingan dengan budaya populer China yang menyebar melalui drama televisi, musik pop, dan media digital.
Dracin menjadi salah satu pintu masuk utama budaya China ke kehidupan generasi muda di Indonesia. Drama berlatar sejarah kekaisaran, kisah keluarga, hingga romansa modern memperkenalkan nilai-nilai budaya China, seperti bakti kepada orang tua, keharmonisan keluarga, dan konsep keberuntungan, yang merupakan inti dari perayaan Imlek.
Bagi banyak anak muda, pemahaman terhadap budaya China tidak hanya diperoleh dari cerita orang tua atau tradisi, tetapi juga dari tayangan visual yang dikonsumsi sehari-hari. Dracin menghadirkan gambaran Imlek di China dengan jamuan keluarga besar, pakaian tradisional, hingga suasana kampung halaman yang mengandung makna emosional.
Di sebuah toko di Glodok, Elisabeth Queenza (17) tampak memilih hiasan Imlek bersama adiknya. "Waktu nonton dracin, Imlek itu kelihatan meriah dan penuh makna keluarga. Jadi saat ke Glodok, meriahnya terasa," ujarnya. Menurut Elisabeth, dracin membuat generasi muda lebih akrab dengan simbol-simbol budaya, mulai dari hiasan, pakaian tradisional, hingga nilai kekeluargaan yang menjadi inti dari perayaan Imlek.
"Di dracin, Imlek menjadi momen kumpul keluarga, sama seperti cara kami merayakan Imlek di Indonesia. Itu yang membuat saya ingin mencari hiasan dan pakaian tradisional seperti yang dipakai dalam dracin," tambahnya, yang mengaku rutin menonton dracin melalui platform streaming.
Selain dracin, musik pop China juga mulai mengisi ruang perayaan Imlek di Glodok, yang sebelumnya didominasi lagu-lagu tradisional bertema Tahun Baru Imlek. Lagu Mandarin modern diputar di toko-toko, restoran, hingga kafe di sekitar kawasan tersebut.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran selera generasi muda yang lebih akrab dengan budaya China kontemporer. Musik pop Mandarin tidak menggantikan lagu Imlek klasik, tetapi berjalan berdampingan, menciptakan suasana perayaan yang lebih personal dan modern.
"Anak muda sekarang lebih kenal penyanyi China dari drama atau media sosial. Jadi waktu Imlek, musiknya juga ikut berubah," ujar seorang karyawan toko di Glodok, yang memutar soundtrack dracin di tokonya.
Pengaruh dracin dalam persiapan menjelang Imlek juga terlihat secara visual, yaitu dengan meningkatnya minat konsumen terhadap busana hanfu modern, yang sering muncul dalam drama sejarah China. Generasi muda seperti Elisabeth ingin mengenakan hanfu saat sesi foto Imlek atau acara keluarga. Baginya, hanfu menjadi simbol ketertarikan terhadap budaya China klasik yang dipopulerkan kembali melalui dracin.
Di tengah pengaruh budaya populer China, perayaan Imlek tidak kehilangan makna, melainkan mengalami perluasan makna. Generasi muda tetap menjalankan tradisi nenek moyang, menghormati leluhur, dan berkumpul bersama keluarga, tetapi cara mereka mengekspresikan perayaan itu menjadi lebih beragam.
Nuansa menyambut Imlek di Glodok di era ini menjadi cerminan dinamika identitas masyarakat Tionghoa di Indonesia. Di satu sisi, perayaan Imlek berakar kuat pada tradisi dan nilai leluhur dari China, tetapi di sisi lain, perayaan tersebut terus berkembang mengikuti arus budaya populer dan globalisasi.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Jumlah pengguna internet lansia di Taiwan meningkat
Indonesia
•
25 Mar 2022

Hidup ‘hanya’ 45 tahun, Imam Nawawi tulis kitab klasik Al-Majmu’ 9 volume
Indonesia
•
06 Aug 2022

Obat penurun berat badan jadi pilihan baru untuk perangi obesitas di China
Indonesia
•
01 Dec 2024

COVID-19 – 80 negara maju biayai produksi vaksin global
Indonesia
•
26 Aug 2020
Berita Terbaru

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026

30.000 lebih pekerja layanan kesehatan gelar aksi mogok kerja di California, AS
Indonesia
•
27 Jan 2026

UNICEF peringatkan pendidikan Afghanistan di ambang kehancuran
Indonesia
•
27 Jan 2026
