
Feature – Idul Adha tanpa perayaan, anak-anak Gaza hanya impikan makanan dan sekolah

Foto yang diabadikan pada 14 Mei 2026 ini memperlihatkan anak-anak pengungsi Palestina di kamp pengungsi Al-Shati, Gaza City bagian barat. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Idul Adha secara tradisional menjadi momen untuk berkurban dan berbagi kelimpahan, saat domba-domba disembelih pada waktu fajar serta dapur-dapur dipenuhi aroma daging dan rempah-rempah. Sementara itu, anak-anak merayakannya dengan mengenakan pakaian baru, dengan saku-saku mereka terisi uang koin pemberian para kerabat.
Aboud Halawa (10), masih ingat masa-masa itu. Namun, dia tidak yakin akan bisa mengalaminya lagi dalam waktu dekat.
"Anak-anak di negara lain merayakan Idul Adha, mengenakan pakaian baru, dan bermain dengan mainan-mainan mereka," ungkapnya saat berdiri di pelabuhan perikanan Gaza City, tempat dia kini menghabiskan waktu setiap pagi membantu ayahnya menarik jala ikan. "Namun di sini, kami hidup dalam ketakutan, kelaparan, dan pengungsian. Bahkan saat Idul Adha, tidak ada daging dan tidak ada perayaan yang sesungguhnya."
Bagi sekitar 1 juta anak di wilayah kantong tersebut, Idul Adha, salah satu hari raya terpenting umat Muslim, kini bukan lagi sebuah perayaan, melainkan sebuah pengingat akan apa saja yang telah hilang, mulai dari rumah, kerabat, hingga rasa aman yang dulu membuat hari raya itu terasa istimewa.
Hari raya tersebut jatuh menjelang Hari Anak Internasional, yang diperingati setiap tahun pada 1 Juni, di tengah situasi yang disebut oleh organisasi-organisasi bantuan sebagai salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia yang menimpa anak-anak.
Otoritas kesehatan Gaza menyebutkan lebih dari 21.000 anak Palestina tewas sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, menyusul serangan Hamas terhadap wilayah selatan Israel dan diikuti oleh operasi militer Israel di wilayah kantong tersebut.
Bagi keluarga-keluarga seperti keluarga Halawa, yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di Beit Lahia, Gaza utara, tradisi utama hari raya Idul Adha, yaitu menikmati hidangan perayaan bersama-sama, kini sudah tidak lagi terjangkau.
Alih-alih bersiap untuk merayakan hari raya, Aboud justru bangun sebelum fajar untuk bekerja. Karena sekolah-sekolah telah ditutup sejak perang dimulai, dia menghabiskan hari-harinya dengan membantu sang ayah mencari ikan untuk menghidupi keluarga.
"Sebelum perang, saya biasanya pergi ke sekolah dan bermain dengan teman-teman di jalanan," ujarnya. "Sekarang hidup saya sudah berbeda. Saya bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ayah saya karena hidup menjadi sangat sulit, dan kami membutuhkan uang untuk bertahan hidup."
Lojain Mohammed (7), terpaksa mengungsi dari kawasan permukiman al-Nasr di Gaza City dan kini tinggal bersama orang tua serta tiga saudaranya di rumah seorang kerabat. Dia mengingat kembali masa-masa ketika mengunjungi taman hiburan saat Idul Adha, menghabiskan waktu bersama teman-teman, dan menikmati masa kecil yang dipenuhi dengan kegiatan sekolah, bermain, serta jalan-jalan bersama keluarga. Pada Idul Adha kali ini, dia menginginkan sebuah boneka dan ingin kembali bersekolah, ungkapnya.
Berbagai organisasi bantuan internasional telah berulang kali memperingatkan mengenai dampak psikologis yang kian meningkat akibat perang terhadap anak-anak di Gaza.
Ratusan ribu di antaranya kini tinggal di tempat pengungsian, rumah-rumah yang rusak, atau bersama kerabat, di mana banyak dari mereka telah kehilangan orang tua atau saudara kandung. Badan-badan bantuan melaporkan memburuknya kelaparan, trauma, dan tekanan emosional di tengah kelangkaan pangan, air bersih, serta berbagai layanan dasar yang terus berlanjut, kondisi yang menurut mereka berdampak secara tidak proporsional terhadap anak-anak.
Kembali di pelabuhan, Halawa memandang ke arah laut dan berbicara tentang harapannya untuk masa depan. Dia ingin menjadi seorang dokter, karena dia setiap hari melihat orang-orang yang terluka dan keluarga-keluarga yang kesulitan, sehingga dirinya ingin membantu mereka, tuturnya.
Selain itu, dia juga ingin merasakan Idul Adha seperti perayaan Idul Adha sebelumnya.
"Saya ingin anak-anak di Gaza bisa hidup seperti anak-anak di belahan dunia lainnya," sebut Halawa. "Kami ingin bermain, belajar, dan hidup tanpa rasa takut."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Jubir Kremlin: Segala bentuk kehadiran militer asing di Ukraina adalah ancaman bagi Rusia
Indonesia
•
10 Apr 2025

Mantan Presiden Korsel Yoon Suk-yeol divonis 30 tahun penjara dalam kasus pengkhianatan negara
Indonesia
•
13 Jun 2026

Ayatollah Khamenei tewas dalam serangan AS, Israel
Indonesia
•
01 Mar 2026

Sedikitnya 20 migran Afrika tewas tenggelam di lepas pantai Tunisia
Indonesia
•
26 Dec 2020


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
