Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII

Sebuah pagoda terlihat di Taman Budaya Tionghoa, yang berlokasi di dekat Museum Hakka Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada 23 Desember 2025. (Xinhua/Poppy Amelia Sevina)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Di Kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII), berdiri deretan museum yang merekam keragaman sejarah dan budaya Indonesia. Salah satu di antaranya adalah Museum Hakka Indonesia. Museum ini menampilkan jejak migrasi, budaya, serta kontribusi komunitas Hakka yang telah hadir dan berkembang di Indonesia sejak ratusan tahun lalu melalui beragam koleksi dan dokumentasi.
Ruang edukasi lintas generasi
Museum Hakka Indonesia didirikan oleh Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera dan diresmikan pada 30 Agustus 2014 oleh Presiden Republik Indonesia (RI) ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian sejarah dan budaya komunitas Hakka.
Berlokasi di kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, museum ini dirancang tidak hanya sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran lintas generasi.
Desain gedung Museum Hakka Indonesia terinspirasi dari arsitektur Tulou (bangunan rumah komunal) populer ‘Zhencheng Lou’ tempat pemukiman komunitas Hakka yang terletak di wilayah Yongding, Fujian, China selatan, yang melambangkan kebersamaan, ketahanan, dan kemampuan beradaptasi.
Secara keseluruhan, gedung Museum Hakka Indonesia terdiri atas tiga ruang utama, yaitu Museum Tionghoa Indonesia, Museum Hakka Indonesia, dan Museum Yongding Hakka Indonesia.
Museum Hakka Indonesia terletak di lantai 3 dan memiliki tujuh ruang pameran yang menyajikan visual, diorama, dan narasi komprehensif mengenai sejarah migrasi komunitas Hakka, perkembangan kebudayaan dan pendidikan, pengenalan tokoh-tokoh Hakka yang berpengaruh, serta berbagai koleksi benda dan artefak yang merepresentasikan kehidupan sosial dan budaya komunitas Hakka di berbagai wilayah Indonesia.
Menariknya, sebagian koleksi dan produk yang dipamerkan merupakan hasil sumbangan atau donasi dari individu maupun keluarga komunitas Hakka di Indonesia, menunjukkan partisipasi aktif komunitas Hakka dalam menjaga dan mewariskan identitas budaya mereka kepada generasi berikutnya.
Suasana museum yang bersih, terawat dan informatif turut mendukung pengalaman berkunjung. Salah satu staf museum, Novi (25), menjelaskan bahwa seluruh koleksi dirawat secara berkala untuk menjaga kualitas dan nilai historisnya.
"Museum ini cukup ramai, terutama saat libur. Pengunjungnya paling banyak adalah anak-anak sekolah yang datang untuk tur edukasi," tambah Novi. Kehadiran rombongan pelajar menjadi bukti bahwa museum ini berfungsi sebagai sarana edukasi yang aktif, bukan sekadar ruang pamer yang pasif.
Awal kedatangan komunitas Hakka ke Indonesia
Komunitas Hakka merupakan salah satu sub komunitas Tionghoa yang dikenal sebagai kelompok perantau, sekaligus salah satu sub komunitas terpenting dari suku Han China.
Migrasi komunitas Hakka ke berbagai wilayah terjadi dalam enam gelombang lantaran dipicu oleh kondisi ekonomi, sosial, dan politik di wilayah asal mereka di China selatan. Komunitas Hakka mulai bermigrasi secara bertahap ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-20 karena peluang perdagangan dan sumber daya alam yang tersedia.
Pada masa awal kedatangan, komunitas Hakka banyak menetap di wilayah pesisir dan daerah pertambangan, seperti Bangka Belitung, Kalimantan Barat, serta sejumlah wilayah di Sumatra dan Jawa. Dalam prosesnya, mereka berinteraksi dengan masyarakat lokal dan perlahan membangun komunitas yang menetap.
Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk perbedaan budaya dan kebijakan kolonial pada masa itu, komunitas Hakka tetap mempertahankan identitas budaya mereka sembari beradaptasi dengan lingkungan sosial di Indonesia.
Peran komunitas Hakka di Indonesia
Seiring berjalannya waktu, komunitas Hakka memainkan peran penting dalam berbagai sektor kehidupan di Indonesia, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan.
Di bidang ekonomi, komunitas Hakka dikenal sebagai pengusaha ulung yang aktif mengembangkan usaha perdagangan, perbankan, dan manufaktur. Beberapa perusahaan besar yang didirikan atau dijalankan oleh pengusaha Hakka, misalnya PT. Sinde Budi Sentosa yang didirikan oleh Budi Yuwono, menunjukkan kemampuan mereka dalam membangun jaringan bisnis yang luas dan inovatif.
Budi Yuwono sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh komunitas Hakka yang berpengaruh di Indonesia, khususnya di sektor industri farmasi dan minuman kesehatan. Perusahaan itu menghasilkan berbagai produk yang populer di masyarakat, seperti Larutan Penyegar Cap Badak dan Lasegar, minuman energi Enerbee, minuman kesehatan berbahan herbal dan buah seperti Sanzha Plum, serta berbagai produk jamu dan obat tradisional, termasuk balsem dan obat pereda sakit kepala.
Keberhasilan produk-produk tersebut mencerminkan kemampuan pengusaha Hakka dalam memadukan kearifan pengobatan tradisional dengan strategi pemasaran modern sehingga mampu bertahan dan berkembang di pasar nasional maupun internasional.
Di bidang pendidikan, komunitas Hakka turut mendirikan sekolah dan institusi pendidikan untuk menjaga bahasa, budaya, dan identitas mereka sekaligus memberikan akses pendidikan bagi generasi muda Indonesia. Salah satu contohnya adalah Sekolah Budi Agung di Jakarta Utara yang berada di bawah naungan Yayasan Hakka. Sekolah ini memberikan ruang bagi anak-anak Hakka maupun masyarakat umum untuk memperoleh pendidikan berkualitas.
Selain mendirikan sekolah, Yayasan Hakka juga aktif dalam menyelenggarakan program kebudayaan dan pelatihan, seperti kursus bahasa Mandarin, kaligrafi, dan kesenian tradisional Hakka, sehingga generasi muda tetap mengenal akar budaya mereka.
Selain kontribusi di bidang ekonomi dan pendidikan, komunitas Hakka juga aktif dalam organisasi sosial dan perhimpunan yang berperan dalam menjaga solidaritas serta identitas budaya mereka.
Di Indonesia, salah satu organisasi yang menaungi komunitas Hakka adalah Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera (PHIS), yang dipimpin oleh Sugeng Prananto sebagai Ketua Umum. Organisasi ini melibatkan berbagai tokoh komunitas Hakka dari beragam latar belakang dan secara aktif menyelenggarakan kegiatan sosial, budaya, serta kemanusiaan.
Organisasi inilah yang mendirikan Museum Hakka Indonesia sebagai sarana pembelajaran dan pelestarian sejarah, budaya, serta kontribusi komunitas Hakka di Indonesia bagi masyarakat luas.
Salah satu tokoh nasional yang dikenal memiliki peran simbolis dalam komunitas ini adalah Basuki Tjahaja Purnama, biasa disapa Ahok, yang menjabat sebagai Ketua Kehormatan Abadi Senior PHIS dan kerap dikaitkan dengan nilai-nilai keterbukaan, kerja keras, serta pengabdian sosial yang dijunjung komunitas Hakka.
Melalui organisasi seperti PHIS dan komunitas Hakka daerah, termasuk Perkumpulan Meizhou Hakka, berbagai kegiatan seperti perayaan Imlek, festival budaya, pameran seni, kuliner, dan bakti sosial rutin dilakukan. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat ikatan internal komunitas, tetapi juga berkontribusi dalam memperkaya keragaman budaya Indonesia dan membangun jaringan sosial yang kuat di berbagai wilayah.
Museum Hakka Indonesia bukan hanya tempat menyimpan benda-benda bersejarah, melainkan juga mengisahkan perjalanan hidup komunitas Hakka di Indonesia. Di museum ini, pengunjung dapat melihat bagaimana komunitas ini bekerja keras, saling membantu, dan tetap menjaga tradisi mereka.
Museum ini juga menunjukkan bahwa keberagaman budaya adalah kekayaan yang harus dihargai. Selain sebagai tempat belajar, museum ini memberi inspirasi untuk menghargai sejarah dan peran setiap komunitas dalam membangun masyarakat tanah air.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

NYT: Keamanan jadi strategi marketing di sekolah AS atas kekerasan senjata
Indonesia
•
22 Feb 2023

Dana PBB senilai 51,5 miliar dolar AS diharapkan bantu 222 juta orang kelaparan
Indonesia
•
02 Dec 2022

Korban tewas akibat serangan udara Israel di Gaza bertambah jadi 232
Indonesia
•
09 Oct 2023

CNN: Anak-anak pribumi Amerika dikirim ke lebih banyak sekolah asrama tempat asimilasi paksa
Indonesia
•
07 Sep 2023
Berita Terbaru

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026

30.000 lebih pekerja layanan kesehatan gelar aksi mogok kerja di California, AS
Indonesia
•
27 Jan 2026

UNICEF peringatkan pendidikan Afghanistan di ambang kehancuran
Indonesia
•
27 Jan 2026
