
PBB: Upaya pengiriman bantuan di Gaza utara yang terkepung dihambat selama lebih dari 40 hari

Orang-orang mengantre untuk membeli roti di sebuah toko roti di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 18 November 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Gaza utara menghadapi risiko kelaparan yang mengancam jiwa dan tindakan harus segera dilakukan dalam hitungan hari alih-alih pekan.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (19/11) mengatakan bahwa upaya untuk membantu orang-orang yang berjuang untuk tetap hidup saat mereka dikepung di sejumlah area di Gaza utara telah ditolak atau dihambat selama lebih dari 40 hari.Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan 27 dari 31 misi yang direncanakan untuk membantu warga di Beit Hanoun, Beit Lahiya, dan sebagian wilayah Jabalya ditolak dan empat lainnya mengalami hambatan signifikan."Akibatnya, toko roti dan dapur di Kegubernuran Gaza Utara terpaksa ditutup, dukungan nutrisi ditangguhkan, dan pengisian bahan bakar fasilitas air dan sanitasi terblokir sepenuhnya," kata OCHA.Komite Peninjauan Kelaparan Sistem Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification/IPC) PBB telah memperingatkan bahwa sebagian wilayah di Gaza utara menghadapi risiko kelaparan yang mengancam jiwa dan tindakan harus segera dilakukan dalam hitungan hari alih-alih pekan.Badan kemanusiaan itu mengatakan bahwa seiring insiden dengan banyak korban dan pengeboman Israel terus berlanjut, akses ke rumah sakit Kamal Adwan, Al Awda, dan Indonesia di Gaza Utara tetap sangat terbatas di tengah kekurangan pasokan medis, unit darah, dan bahan bakar."Upaya mitra kesehatan kami untuk mengerahkan tim medis darurat internasional guna meningkatkan kapasitas terus dihalangi oleh otoritas Israel," kata OCHA.Sebagai contoh, badan kemanusiaan itu melaporkan bahwa pada Ahad (17/11) OCHA membantu misi yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Layanan Aksi Ranjau PBB, Komite Internasional Palang Merah, dan Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina ke Rumah Sakit Kamal Adwan untuk mengirim 10.000 liter bahan bakar dan memindahkan 17 pasien, tiga anak tanpa pendamping, dan puluhan pengasuh ke Rumah Sakit Al Shifa di Gaza City.
Seorang pria memandangi rumah-rumah yang hancur akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi al-Bureij di Jalur Gaza tengah pada 17 November 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti University of Hawaii ungkap hubungan tanaman dan bahasa di Pulau Alor
Indonesia
•
08 Nov 2024

Sepuluh perempuan mengisi posisi kepemimpinan dalam Presidensi Dua Masjid Suci
Indonesia
•
16 Aug 2020

Berkemah di karavan jadi alternatif liburan warga Turkiye di tengah kesulitan ekonomi
Indonesia
•
06 Jul 2023

China perbarui peringatan kuning untuk hujan badai
Indonesia
•
18 Jul 2023


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
