
Sekjen PBB desak aksi global untuk atasi panas ekstrem

Seorang wisatawan menyejukkan diri saat gelombang panas melanda Dubrovnik, Kroasia, pada 9 Juli 2024. (Xinhua/PIXSELL/Grgo Jelavic)
Gelombang panas mematikan sedang melanda Sahel dengan lonjakan angka rawat inap dan kematian, memecahkan rekor suhu di seluruh Amerika Serikat, menimbulkan panas terik yang mengakibatkan 1.300 jamaah haji meninggal, membuat tempat-tempat wisata di kota-kota Eropa yang panas terpaksa ditutup, serta menutup sekolah-sekolah di kawasan Asia dan Afrika yang berdampak pada lebih dari 80 juta anak.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Kamis (25/7) menyerukan aksi global untuk mengatasi panas ekstrem, karena "suhu ekstrem bukan lagi fenomena sehari, sepekan, atau sebulan.""Bumi menjadi makin panas dan makin berbahaya bagi semua orang, di mana pun," kata Guterres dalam sambutannya kepada awak media tentang panas ekstrem.Miliaran orang sedang menghadapi epidemi panas ekstrem, menderita di bawah gelombang panas yang semakin mematikan, dengan suhu menembus 50 derajat Celsius di seluruh dunia, kata sekjen PBB tersebut. "Itu ... separuh jalan menuju titik didih."Menyoroti dampak suhu ekstrem, Guterres mengatakan bahwa gelombang panas mematikan sedang melanda Sahel dengan lonjakan angka rawat inap dan kematian, memecahkan rekor suhu di seluruh Amerika Serikat, menimbulkan panas terik yang mengakibatkan 1.300 jamaah haji meninggal, membuat tempat-tempat wisata di kota-kota Eropa yang panas terpaksa ditutup, serta menutup sekolah-sekolah di kawasan Asia dan Afrika yang berdampak pada lebih dari 80 juta anak."Panas ekstrem semakin merusak perekonomian-perekonomian, memperlebar kesenjangan, melemahkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dan menyebabkan kematian banyak orang," lanjut Guterres.Menurut Guterres, panas diperkirakan menyebabkan kematian hampir setengah juta orang per tahun, atau sekitar 30 kali lipat lebih banyak dari korban jiwa siklon tropis.
Orang-orang menyejukkan diri di pantai Santa Monica di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 23 Juni 2024. (Xinhua/Zeng Hui)
Anak-anak menyejukkan diri di sebuah air mancur di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 5 Juli 2024. (Xinhua/Zeng Hui)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Israel umumkan "tahap baru" serangan ke Gaza
Indonesia
•
06 Apr 2025

Bukti baru dari unit perang kuman Jepang yang bersejarah dipublikasikan
Indonesia
•
09 Jul 2024

Fokus Berita – Veto berdarah Washington untuk Gaza
Indonesia
•
23 Feb 2024

Mahkamah Agung Saudi serukan umat Islam lihat bulan Syawal pada 30 April
Indonesia
•
29 Apr 2022


Berita Terbaru

Feature – Saat ekonomi terpuruk, makanan gratis jadi harapan bagi warga rentan di Sanaa, Yaman
Indonesia
•
17 Mar 2026

Fokus Berita – Misi militer AS di Selat Hormuz ditolak sekutu Eropa
Indonesia
•
17 Mar 2026

Komandan Korps Garda Revolusi sebut Selat Hormuz tidak ditutup, tetapi berada di bawah kendali Iran
Indonesia
•
17 Mar 2026

Iran tak minta gencatan senjata atau negosiasi, siap bela diri selama yang diperlukan
Indonesia
•
17 Mar 2026
