Generasi Z di AS lebih khawatirkan kekerasan bersenjata daripada perubahan iklim

Para pelajar yang mengenakan rompi antipeluru menggelar aksi unjuk rasa di dekat Capitol Reflecting Pool di Washington DC, Amerika Serikat, pada 6 Juni 2022. (Xinhua/Aaron Schwartz)
Kekerasan bersenjata di AS lebih meresahkan kalangan remaja dan dewasa muda di negara itu, dibandingkan isu perubahan iklim dan kases aborsi, menurut Global Strategy Group.
New York City, AS (Xinhua) – Sebanyak 30 persen kalangan remaja dan dewasa muda di Amerika Serikat (AS) pernah mengalami sendiri kekerasan bersenjata dan seperempat lainnya (24 persen) memiliki teman atau anggota keluarga yang pernah mengalami hal tersebut, demikian menurut hasil survei ‘Gen Z Gun and Culture Insights’ atau ‘Wawasan Senjata dan Budaya pada Generasi Z’ yang dirilis pada Rabu (28/9).Lebih dari seperempat (28 persen) mengatakan bahwa mereka sendiri atau teman atau anggota keluarga pernah ditembak, sementara di kalangan anak muda kulit hitam dan Latin, lebih dari 60 persen memiliki pengalaman pribadi dengan kekerasan bersenjata atau mengetahui seseorang yang memiliki pengalaman serupa, kata survei itu."Generasi Z menempatkan kekerasan bersenjata sebagai masalah yang lebih besar dibandingkan perubahan iklim atau akses aborsi," urai survei yang dilakukan Global Strategy Group dan menyurvei 1.000 warga AS berusia 13 hingga 25 tahun."Mayoritas kalangan muda memercayai mitos bahwa memiliki senjata membuat mereka lebih aman, dan mitos itu memicu kenaikan tingkat kepemilikan senjata api, dan lebih lanjut lagi, kematian akibat senjata api, di seluruh negara tersebut," ujar Nina Vinik, pendiri sekaligus direktur eksekutif Project Unloaded, sebuah organisasi yang mengubah narasi budaya soal kekerasan bersenjata api dan keselamatan terkait senjata api."Kendati demikian, masih ada alasan untuk bisa berharap. Ketika dihadapkan dengan fakta tentang risiko penggunaan senjata, kaum muda di semua kelompok demografis mengubah pandangan mereka tentang menganggap senjata sebagai alat perlindungan. Penelitian itu menunjukkan bahwa masih mungkin mengubah budaya seputar senjata api, dan itu akan menyelamatkan nyawa," imbuh Vinik.Kasus kematian
Kasus kematian akibat senjata api di Amerika Serikat terus meningkat di tahun kedua pandemik ini setelah sebelumnya memecahkan rekor pada 2020, mencapai 48.832 kematian pada 2021, menurut data sementara yang baru-baru ini dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.Selama kurang dari 300 hari pada tahun 2022, terjadi lebih dari 464 insiden penembakan massal, menurut Gun Violence Archive.
Tim investigasi melakukan penyelidikan di gerai Walmart yang menjadi lokasi insiden penembakan massal di El Paso, Texas, Amerika Serikat, pada 5 Agustus 2019. (Xinhua/Wang Ying)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

UNICEF: 2,45 juta anak Suriah putus sekolah saat sistem pendidikan masih berjuang pulih
Indonesia
•
08 Oct 2025

Bayi kembar Vietnam lahir di usia kandungan 25 pekan, dengan berat 500 gram
Indonesia
•
15 Oct 2022

Telaah – Seberapa parah bencana kelaparan di Gaza?
Indonesia
•
24 Aug 2025

Fokus Berita – Taiwan gelar Pekan Kesetaraan Gender di New York, tuai banyak pujian
Indonesia
•
20 Mar 2024
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026
