
FAO: Harga pangan dunia terus merosot pada Juni 2023

Seorang pelanggan berbelanja bahan makanan di sebuah pasar swalayan di pusat kota Stockholm, Swedia, pada 15 Maret 2023. Harga bahan pangan di Swedia melonjak lebih dari 20 persen selama 12 bulan terakhir, mencatatkan rekor kenaikan tertinggi dalam lebih dari 70 tahun, demikian menurut Badan Statistik Swedia (SCB) pada Rabu (15/3). (Xinhua/Fang Ming)
Indeks Harga Pangan dunia dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) terus merosot pada Juni 2023, dengan tren penurunan didorong oleh penurunan harga gula, minyak sayur, sereal, dan produk susu.
Roma, Italia (Xinhua) – Indeks Harga Pangan dunia dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) terus merosot pada Juni 2023, dengan tren penurunan didorong oleh penurunan harga gula, minyak sayur, sereal, dan produk susu, sebagaimana diungkapkan organisasi itu pada Jumat (7/7).Rata-rata indeks tersebut, yang melacak komoditas pangan yang paling banyak diperdagangkan secara global, tercatat di angka 122,3 poin pada Juni, dan saat ini 23,4 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada Maret 2022.Pada Juni, indeks tersebut turun 1,4 persen dibandingkan pada Mei. Empat dari lima subkomponennya mengalami penurunan pada Juni, sedangkan subkomponen kelima, yang mengukur harga daging, hampir sama dengan Mei.Harga biji-bijian dan serealia, yang memiliki porsi terbesar dalam indeks itu, turun 2,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Harga gandum, jagung, beras, jelai, dan sorgum, semuanya turun dibandingkan Mei, seiring meningkatnya tingkat produksi.Harga minyak sayur turun 2,4 persen dibandingkan Mei karena ekspor minyak kelapa sawit dan minyak bunga matahari meningkat. Indeks harga minyak sayur saat ini berada di level terendah sejak November 2020.Sementara itu, harga gula turun 3,2 persen menyusul kuatnya produksi di Brasil.Harga produk susu mengalami penurunan lebih kecil, yakni sebesar 0,8 persen, tetapi masih 22,2 persen di bawah level yang tercatat setahun yang lalu. Selama dua bulan beruntun, subindeks ini turun akibat peningkatan produksi keju di Eropa dan kenaikan ekspor susu bubuk dari Selandia Baru.Di sisi lain, harga daging hanya sedikit sekali berubah dibandingkan harga pada Mei karena produksi global yang lebih tinggi untuk daging babi dan ayam diimbangi oleh output yang lebih rendah untuk daging sapi dan domba. Subindeks daging mengalami volatilitas paling rendah dalam setahun terakhir, tetapi masih 6,4 persen di bawah level yang tercatat setahun yang lalu.Meskipun pasar beradaptasi dengan rute perdagangan yang terganggu dan harga bahan bakar yang lebih tinggi akibat konflik Rusia-Ukraina, para pejabat FAO telah berulang kali memperingatkan bahwa ketidakpastian pasar terus mengancam banyak negara termiskin di dunia, yang tidak memiliki akses stabil ke pasar pangan global.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China akan tingkatkan pengembangan industri tembaga berkualitas tinggi
Indonesia
•
14 Feb 2025

ICAO perkirakan pemulihan pesat perjalanan udara pada 2023
Indonesia
•
09 Feb 2023

China buka saluran ekspor baru untuk sayuran dan buah-buahan ke Mongolia
Indonesia
•
21 Dec 2022

Harga minyak melonjak saat Barat bahas larangan impor minyak Rusia
Indonesia
•
08 Mar 2022


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
