
Italia tangguhkan Schengen dengan Spanyol selama 1 bulan di tengah krisis migrasi Eropa

Seorang wanita berjalan melewati sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Milan, Italia, pada 11 Maret 2026. (Xinhua/Li Jing)
Roma, Italia (Xinhua/Indonesia Window) – Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni pada Jumat (31/7) malam waktu setempat mengatakan bahwa pemerintahannya telah memutuskan untuk menangguhkan sementara sistem pergerakan bebas Schengen untuk jalur laut dan udara dengan Spanyol, serta memberlakukan kembali pemeriksaan perbatasan.
"Ini merupakan sebuah langkah luar biasa yang diambil untuk melindungi keamanan nasional dan mencegah dampak yang mungkin timbul bagi negara kita. Langkah tersebut akan tetap berlaku hanya selama diperlukan, dengan perhatian khusus diberikan untuk membatasi dampak apa pun terhadap arus pariwisata musim panas," ujar Meloni dalam sebuah unggahan di media sosial X.
Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah Italia menilai situasi terkini terkait imigrasi dan keamanan perbatasan, menyusul lonjakan kedatangan migran dari Maroko baru-baru ini di Ceuta, sebuah wilayah kantong Spanyol di kawasan Afrika Utara, lansir kantor berita Italia, ANSA.
ANSA melaporkan bahwa Italia akan memberlakukan kontrol perbatasan pada jalur laut dan udara dengan Spanyol selama satu bulan penuh mulai 1 Agustus. Pemeriksaan tersebut akan dilaksanakan di pelabuhan-pelabuhan dan bandara-bandara Italia.
Polisi perbatasan akan melakukan pemeriksaan "tertarget" dan "selektif," dengan fokus utama pada warga negara ketiga yang tiba di Italia dari Spanyol, guna memverifikasi apakah mereka memiliki dokumen-dokumen valid untuk memungkinkan mereka bepergian di dalam kawasan Schengen.
"Penangguhan sementara terhadap sistem Schengen dengan Spanyol merupakan pilihan yang perlu diambil untuk melindungi keamanan warga negara kita dan mempertahankan perbatasan Eropa. Langkah itu telah diatur dalam traktat dan tidak dapat dihindari karena situasi saat ini," sebut Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani dalam sebuah unggahan di media sosial X pada Jumat malam waktu setempat.
"Krisis migran di Ceuta mengingatkan kita bahwa pengelolaan perbatasan Uni Eropa (UE) merupakan tanggung jawab bersama di antara negara-negara anggota kita," kata Tajani.
"Kita harus bekerja sama untuk mencegah masuknya arus migran yang tidak terkendali ke wilayah UE, beserta segala risiko yang ditimbulkan dan ancaman terorisme, yang harus ditangani tanpa keraguan," tuturnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Wawancara – Ketua Perhimpunan Persahabatan Arab-China sebut forum kerja sama bantu bangun komunitas China-Arab
Indonesia
•
04 Jun 2024

Perundingan Iran-AS di Qatar resmi berakhir, Teheran soroti pelanggaran MoU
Indonesia
•
02 Jul 2026

Putra mahkota Saudi juga salahkan AS saat bahas pembunuhan jurnalis Khashoggi
Indonesia
•
16 Jul 2022

NYT: Sekitar 27 ton bahan kimia peledak hilang dalam ekspedisi kereta di AS
Indonesia
•
23 May 2023


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
