
Air laut naik terus, warga Pasifik mengungsi

Ilustrasi. (Kelly Sikkema on Unsplash)
Kepulauan Pasifik merupakan salah satu kawasan di dunia yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Suva, Fiji (Xinhua/Indonesia Window) – Dampak perubahan iklim yang semakin parah memaksa masyarakat di Kepulauan Pasifik harus pindah, namun banyak pemerintahan di kawasan tersebut masih belum memiliki kebijakan relokasi yang jelas dalam memandu transisi yang sulit ini.Direktur Eksekutif Dewan Layanan Sosial Fiji (Fiji Council of Social Services/FCOSS) Vani Catanasiga mengatakan kesenjangan kebijakan ini membuat masyarakat kesulitan dalam membuat keputusan saat mereka harus menghadapi kenaikan level permukaan laut, badai yang semakin dahsyat, hingga banjir rob yang kian sering terjadi.Meskipun Fiji telah menetapkan pedoman relokasi resmi, Catanasiga mengungkapkan masih banyak negara Pasifik yang saat ini belum menerapkan pedoman tersebut, bahkan ketika beberapa desa telah kehilangan lahan dan mata pencaharian, seperti yang dilaporkan oleh situs jejaring berita Fiji Broadcasting Corporation pada Jumat (26/9).Kepulauan Pasifik merupakan salah satu kawasan di dunia yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC), permukaan laut di kawasan ini naik lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Tanpa pemangkasan emisi yang drastis, beberapa negara atol dataran rendah, seperti Kiribati, Tuvalu, dan Kepulauan Marshall, berisiko tidak dapat dihuni lagi dalam abad ini.Di Fiji saja, lebih dari 40 gugus warga telah diidentifikasi sebagai kelompok yang membutuhkan relokasi. Desa-desa, seperti Vunidogoloa di Vanua Levu, semakin terdesak ke pedalaman akibat erosi pantai dan intrusi air laut.Catanasiga menekankan bahwa karena pelaksanaan relokasi yang dipimpin negara dapat memakan waktu hingga bertahun-tahun untuk dilakukan, masyarakat pun hidup dengan menghadapi ancaman langsung.Dia menyoroti perlunya instrumen-instrumen yang memberdayakan masyarakat untuk dapat merespons dengan cepat.Ketahanan bukan hanya tentang pindah ke tempat yang lebih aman, tetapi juga tentang memastikan masyarakat tetap kuat, kohesif, dan didukung selama pergolakan ini, papar Catanasiga, seraya menambahkan bahwa ketahanan membutuhkan perencanaan praktis dan perhatian terhadap kesejahteraan sosial maupun budaya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Burj Khalifa gedung tertinggi di dunia
Indonesia
•
13 Feb 2021

The Washington Post: Pekerja federal AS diminta tak lagi terapkan ‘work from home’
Indonesia
•
03 Aug 2023

Gadis 11 tahun di Arab Saudi meninggal 10 jam setelah kematian ayahnya
Indonesia
•
07 Jun 2022

Negara-negara anggota WHO perpanjang pembahasan kesepakatan pandemik selama setahun
Indonesia
•
02 Jun 2024


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
