
Fokus Berita – Tarif UE terhadap EV China tingkatkan kekhawatiran akan perang dagang

Orang-orang mengunjungi stan BYD dalam pameran otomotif Automechanika di Frankfurt, Jerman, pada 11 September 2024. (Xinhua/Zhang Fan)
Keputusan UE untuk memberlakukan tarif pada EV China, yang diklaim bertujuan untuk melindungi industri otomotif di blok tersebut, justru dapat menghambat pertumbuhan dan membatasi akses konsumen Eropa terhadap model-model EV China yang lebih terjangkau.
Frankfurt, Jerman (Xinhua/Indonesia Window) – Uni Eropa (UE) mengabaikan sejumlah proposal baru dari produsen mobil China yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan terkait mobil listrik (electric vehicle/EV) China di pasar Eropa. Langkah tersebut menghalangi upaya untuk meredakan ketegangan melalui dialog.Keputusan untuk memberlakukan tarif pada EV buatan China, terlepas dari beberapa tawaran yang diajukan oleh produsen China, telah memicu gelombang protes baru di dalam blok tersebut.Penentangan semakin intensifPerdana Menteri (PM) Spanyol Pedro Sanchez, dalam kunjungannya ke China baru-baru ini, menyuarakan penentangannya terhadap usulan tarif UE terhadap EV China, dan mendesak UE untuk mempertimbangkan kembali serta mencari kompromi dengan China demi menghindari perang dagang. Kekhawatiran senada digaungkan oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz, yang juga mengkritik usulan tarif tersebut.Pada Mei, PM Swedia Ulf Kristersson memperingatkan agar tidak memberlakukan tarif terhadap EV China, dengan mengatakan bahwa "perang dagang yang lebih luas di mana kita saling memblokir produk satu sama lain bukanlah cara yang tepat bagi negara-negara industri seperti Jerman dan Swedia."PM Hongaria Viktor Orban bahkan menggambarkan tarif tersebut sebagai sanksi "brutal" terhadap produsen mobil China, dan menyerukan persaingan terbuka.Berbagai suara penentangan ini menunjukkan bahwa keputusan untuk mengenakan tarif terhadap EV China tidak memiliki dukungan yang bulat di antara negara-negara anggota blok tersebut. "Banyak yang menilai bahwa keputusan ini merupakan langkah menuju perang dagang antara Eropa dan China, yang pada akhirnya hanya akan merugikan ekonomi Eropa," kata analis politik Kroasia, Mladen Plese.Pakar otomotif Jerman, Ferdinand Dudenhoeffer, yang menjabat sebagai direktur Pusat Penelitian Otomotif (Center for Automotive Research/CAR) di Bochum, berpendapat bahwa pendekatan proteksionis seperti itu dapat mendorong produsen mobil UE untuk meningkatkan investasi di China, pasar mobil terbesar di dunia sekaligus pemimpin dalam industri EV yang sedang berkembang pesat.Dia memperingatkan bahwa langkah proteksionisme dan penerapan tarif merupakan strategi yang salah arah serta hanya akan mendatangkan kerugian bagi Jerman dan UE."Tarif hukuman Komisi Eropa telah berdampak negatif pada perusahaan-perusahaan Jerman dan produk-produk unggulan mereka. Harga mobil akan menjadi lebih murah dengan adanya lebih banyak kompetisi, pasar terbuka, dan kondisi bisnis yang jauh lebih baik di UE, bukan melalui perang dagang dan isolasi pasar," kata Menteri Transportasi Jerman Volker Wissing dalam sebuah pesan yang diunggah di platform media sosial X.Sementara itu, PM Norwegia Jonas Gahr Store secara terbuka menentang tarif hukuman terhadap EV China. Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan media China, dia menekankan bahwa sebagai anggota non-UE, Norwegia tidak terikat oleh kebijakan UE. "Konsumen di Norwegia perlu memiliki akses yang terbuka terhadap mobil-mobil yang ingin mereka beli," ujarnya.
Foto yang diabadikan pada 6 Juni 2024 ini menunjukkan sebuah mobil listrik di stasiun pengisian daya di dekat gedung Komisi Eropa di Brussel, Belgia. (Xinhua/Zhao Dingzhe)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Cadangan devisa Indonesia tetap tinggi pada Mei 2022
Indonesia
•
08 Jun 2022

Harga minyak mentah melonjak, pengguna kendaraan di Selandia Baru lakukan ‘panic buying’
Indonesia
•
09 Mar 2026

Perusahaan pertanian dan pangan rugi 150 miliar dolar AS akibat perubahan iklim
Indonesia
•
20 Sep 2022

Dewan Pakar Ekonomi Jerman turunkan prospek pertumbuhan negara itu untuk 2024 dan 2025
Indonesia
•
16 Nov 2024


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
