
Masyarakat China rayakan Festival Musim Semi di tengah optimalisasi respons COVID

Orang-orang mengunjungi Pameran Kuil Huangsi selama liburan Festival Musim Semi di Shenyang, ibu kota Provinsi Liaoning, China timur laut, pada 23 Januari 2023. Berbagai kegiatan digelar dalam pameran selama enam hari tersebut, yang dimulai dari 22 Januari, untuk merayakan Festival Musim Semi. (Xinhua/Yang Qing)
Liburan Festival Musim Semi, salah satu festival tradisional China terpenting, dirayakan oleh masyarakat China dengan berkumpul bersama keluarga mereka.
Beijing, China (Xinhua) – Menyusul penurunan tingkat penanganan COVID-19 di China, masyarakat di seluruh negeri dengan gembira merayakan Festival Musim Semi, salah satu festival tradisional China terpenting, bersama keluarga mereka.Pada Desember 2022, China mengumumkan 10 langkah baru untuk mencabut pembatasan COVID-19. Wu Yating, yang tinggal di Provinsi Shanxi, China utara, kemudian memutuskan untuk berkumpul kembali dengan suaminya di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan.Dua pekan sebelum Festival Musim Semi, Wu bersama anaknya yang berusia dua tahun tiba di daerah perbatasan di Kota Jingxi, Baise, setelah melakukan perjalanan dengan pesawat dan mobil. Suami Wu adalah seorang polisi di kantor polisi perbatasan. Banyak daerah perbatasan di China menerapkan kontrol COVID-19 yang lebih ketat."Kami tidak perlu lagi menunjukkan kode perjalanan digital kami dan khawatir akan dikarantina," kata Wu, menambahkan bahwa keluarganya tidak dapat menghabiskan Festival Musim Semi bersama sejak anak mereka lahir pada Juni 2020.Wu menuturkan bahwa dia berencana untuk tinggal di Guangxi selama beberapa bulan lagi untuk berkeliling, melihat pemandangan yang indah, dan mencicipi makanan lokal yang lezat."Kami belum pernah terinfeksi COVID-19, tetapi kami tidak takut virus itu karena kami semua sudah divaksinasi dan obat dapat dibeli di apotek kapan saja," imbuhnya.Sebagai tujuan pariwisata favorit, Kota Chongqing di China barat daya, yang juga dikenal sebagai rumah hotpot, mencatat kunjungan wisatawan dalam jumlah besar selama liburan Festival Musim Semi.Bagi Guo Zhenqian (24), dari Kota Nanyang di Provinsi Henan, ini kali kedua dia menghabiskan liburan Festival Musim Semi di Chongqing. Baginya, pengalaman kali ini benar-benar berbeda."Pada 2017, kami berkendara hampir 12 jam dari Nanyang ke Chongqing. Namun, kali ini kami menggunakan kereta cepat dan mencapai Distrik Wanzhou di Chongqing dalam waktu kurang dari tiga jam," kata Guo.Layanan kereta cepat yang digunakan Guo dibuka pada Juni 2022 dan menghubungkan Chongqing dengan Zhengzhou, ibu kota Henan. Waktu tempuh antara kedua kota itu menjadi lebih singkat, dari semula sekitar 8 jam menjadi 4 jam 23 menit dengan kecepatan maksimum.Berkat jaringan kereta cepat baru itu dan optimalisasi langkah-langkah respons COVID-19 China, Guo mendapatkan kesempatan untuk memperluas peta jalan pariwisatanya yang mencakup resor ski di wilayah Fengdu, sebuah kota wisata bertema di Distrik Fuling, dan area Bendungan Tiga Ngarai."Dengan moda transportasi yang nyaman seperti itu, saya hanya ingin memanfaatkannya secara maksimal dan melihat lebih banyak pemandangan. Dan saya pikir banyak orang memiliki ide yang sama dengan saya. Kereta yang saya naiki penuh dengan orang-orang yang ingin melakukan perjalanan di Chongqing, yang memiliki pemandangan pegunungan sangat berbeda dari China tengah," imbuh Guo.Liu Lu dan keluarganya yang berasal dari Beijing akan berlibur selama sebulan di Haikou, ibu kota Hainan, sebuah provinsi pulau di China selatan dan tujuan favorit wisatawan.Haikou, serta Kota Sanya di Hainan, termasuk di antara 10 tujuan domestik teratas untuk liburan Festival Musim Semi, menurut laporan perkiraan pasar pariwisata yang dirilis pada awal Januari."Kami mencoba melepaskan diri dari kesibukan di Beijing dan menikmati kenyamanan dan relaksasi di sini," kata Liu.Wu Lan, seorang wisatawan dari Provinsi Shaanxi di China barat laut, berkunjung ke Hainan bersama keluarganya."Wisatawan ada di mana-mana. Kami mengenakan masker untuk melindungi diri ke mana pun kami pergi," tuturnya, menambahkan bahwa dirinya membeli banyak kosmetik di toko bebas bea dan menikmati makanan lokal.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Media: Krisis cacar monyet dipicu kelalaian Pemerintah AS
Indonesia
•
16 Aug 2022

Bolivia catat hampir 100 kasus cacar monyet dalam sebulan lebih
Indonesia
•
07 Sep 2022

Feature – Kematian hantui pasien cuci darah di Gaza di tengah kelangkaan bahan bakar
Indonesia
•
10 Jul 2025

China catat rekor tertinggi perjalanan penumpang selama libur May Day 2026
Indonesia
•
07 May 2026


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
