Menlu AS sebut operasi militer AS terhadap Iran telah "berakhir"

Para demonstran yang membawa poster turut ambil bagian dalam aksi unjuk rasa Hari Buruh (May Day) di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 1 Mei 2026. (Xinhua/Qiu Chen)

Operasi militer AS terhadap Iran, yang dilancarkan bersama Israel pada 28 Februari, telah "berakhir."

 

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio pada Selasa (5/5) mengatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran, yang dilancarkan bersama Israel pada 28 Februari, telah "berakhir."

"Operasi ini telah berakhir, Epic Fury, seperti yang telah diinformasikan presiden kepada Kongres. Kami sudah selesai dengan tahap tersebut," ujar Rubio dalam konferensi pers di Gedung Putih.

"Kami kini beralih ke Project Freedom," lanjutnya, merujuk pada operasi militer yang diluncurkan Pentagon pada Senin (4/5) untuk mengawal kapal-kapal komersial yang terdampar keluar dari Selat Hormuz. Rubio menambahkan prioritas Washington saat ini adalah membuka kembali jalur energi global yang krusial tersebut.

Pengumuman ini dipandang sebagai upaya pemerintahan Trump untuk menghindari Resolusi Kewenangan Perang (War Powers Resolution), yang mewajibkan presiden meminta persetujuan Kongres untuk melanjutkan aksi militer setelah 60 hari.

Rubio menyampaikan kembali klaim Presiden AS Donald Trump bahwa undang-undang tahun 1973 yang membatasi kewenangan perang presiden tersebut "100 persen tidak konstitusional."

Pemerintahan Trump pekan lalu menginformasikan kepada Kongres bahwa perang melawan Iran telah "dihentikan" seiring tercapainya tenggat legal 60 hari.

Namun demikian, Trump belum menutup kemungkinan untuk melanjutkan kembali serangan militer di tengah kebuntuan perundingan. Rubio mengatakan bahwa Iran kini memiliki kesempatan untuk "menunjukkan dengan jelas" bahwa mereka tidak menginginkan senjata nuklir, yang menurutnya menjadi kunci bagi kesepakatan damai dengan Washington.

Rubio memperingatkan bahwa Iran akan "menyandera dunia" dengan senjata nuklir, serta menuduh Teheran berupaya mengembangkan "rudal peluncur jarak jauh" dan membangun fasilitas bawah tanah untuk kegiatan pengayaan uranium.

"Seseorang harus melakukan sesuatu terkait hal ini," tekannya.

Sebelumnya pada Selasa (5/5), Trump menolak menjelaskan secara rinci apa yang akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang rapuh dengan Iran, sembari menegaskan kembali bahwa Teheran menginginkan kesepakatan damai dengan Washington.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei, para komandan senior, serta warga sipil. Iran kemudian merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target Israel dan AS di kawasan Timur Tengah, serta memperketat kendali atas Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April, diikuti dengan perundingan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad yang berakhir tanpa kesepakatan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait