Telaah - Apa yang Mendorong ‘Pengungsi TikTok’ AS Beralih ke Aplikasi China RedNote?

Logo TikTok terlihat di layar sebuah 'smartphone' di Arlington, Virginia, Amerika Serikat, pada 13 Maret 2024. (Xinhua/Liu Jie)
Migrasi mendadak pengguna TikTok di AS ke RedNote telah menciptakan sebuah platform bagi pengguna China dan AS untuk berinteraksi langsung satu sama lain.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) - Hanya beberapa hari menjelang kemungkinan diberlakukannya larangan terhadap TikTok oleh pemerintah AS, para pengguna AS merespons dengan berpindah ke aplikasi media sosial alternatif China, yaitu RedNote.Aplikasi ini, yang dikenal sebagai Xiaohongshu di China, merupakan aplikasi gaya hidup yang populer di mana para penggunanya berbagi konten tentang kehidupan mereka dan menawarkan tips-tips seputar perjalanan, mode dan kecantikan.Saat ini, Aplikasi itu dibanjiri oleh para pengguna baru asing, terutama warga AS. Mereka menyebut dirinya sebagai "pengungsi TikTok", dan dengan antusias berbagi konten tentang kehidupan mereka dan berinteraksi dengan para pengguna China.Para pakar mengamati bahwa pengguna AS beralih ke RedNote sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan Washington terhadap TikTok.Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui tentang fenomena migrasi ini dan mengapa RedNote mendapatkan popularitas di kalangan warga AS.Apa yang terjadi?Menjelang kemungkinan pemberlakuan larangan terhadap TikTok pada 19 Januari, RedNote tiba-tiba mengalami lonjakan popularitas di kalangan pengguna AS.Aplikasi itu naik ke posisi teratas di Apple App Store dan Google Play Store pada Senin (13/1). Dalam waktu dua hari, lebih dari 700.000 pengguna baru bergabung ke RedNote, menurut Reuters.Tagar ‘tiktokrefugee’ mengumpulkan lebih dari 700 juta penayangan dan lebih dari 10 juta komentar hingga Kamis (16/1) pagi waktu setempat. Migrasi mendadak pengguna TikTok di AS ke RedNote telah menciptakan sebuah platform bagi pengguna China dan AS untuk berinteraksi langsung satu sama lain.Banyak pengguna pemula (newbie) mengungkapkan rasa hormat mereka kepada komunitas pengguna tersebut, sementara pengguna RedNote ‘asli’ menyambut hangat para pendatang baru itu dan menawarkan tips yang berguna untuk menggunakan aplikasi tersebut. "Saya ingin meyakinkan Anda bahwa kami ingin mencoba menemukan cara untuk berkomunikasi dengan Anda, dan menghormati komunitas Anda," kata seorang pengguna asal AS.Sebuah istilah lucu ‘pajak kucing’ muncul ketika banyak pengguna China yang bercanda bahwa orang asing harus berbagi foto hewan peliharaan, terutama kucing, sebagai ‘pajak’ untuk terus berinteraksi di platform ini. Pengguna asing dengan penuh semangat ikut bergabung, mengunggah foto kucing dengan keterangan seperti, "Ini saya sedang membayar pajak kucing saya."Beberapa siswa China bahkan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta bantuan dalam mengerjakan pekerjaan rumah mata pelajaran bahasa Inggris.Para pengguna baru dari AS tersebut "secara tak terduga menciptakan salah satu bentuk pertukaran budaya paling organik antara AS dan China dalam beberapa tahun terakhir," menurut laporan CNN."Para pengguna menemukan cara-cara kreatif untuk mengatasi hambatan bahasa, memahami perbedaan budaya, dan bersama-sama eksis di aplikasi ini dengan cara-cara yang menarik," lanjut laporan tersebut, dengan mengatakan bahwa pembangunan komunitas yang terjadi secara waktu nyata (real time) ini dapat memberikan dampak yang langgeng.RedNote "membuka dunia saya terhadap China dan orang-orangnya," kata Sarah Fotheringham (37), seorang pekerja kantin sekolah di Utah, seperti yang dikutip dalam laporan BBC."Saya kini dapat melihat hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya lihat," katanya. "Orang China pada umumnya, mencari tahu tentang budaya, kehidupan, sekolah, semuanya, sungguh menyenangkan."Mengapa bermigrasi?Salah satu alasan terbesarnya adalah ancaman pelarangan TikTok oleh pemerintah AS. Selama bertahun-tahun, beberapa politisi AS berusaha melarang akses terhadap TikTok, dengan alasan masalah keamanan nasional yang tidak berdasar dan dugaan risiko terhadap privasi data.Tahun lalu, Kongres AS meloloskan rancangan undang-undang (RUU) yang akan memaksa perusahaan induk TikTok yang berbasis di China, ByteDance, untuk menjual platform media sosial tersebut di bawah ancaman larangan tersebut. Presiden AS Joe Biden menandatangani RUU tersebut menjadi undang-undang (UU) pada April 2024. UU ini mengharuskan ByteDance untuk mendivestasi TikTok paling lambat pada 19 Januari tahun ini.Pada 6 Desember, perusahaan itu kalah dalam gugatan hukum pertamanya ketika panel yang terdiri dari tiga hakim federal dengan suara bulat menolak argumen TikTok bahwa UU tersebut melanggar Amandemen Pertama. Saat ini, Mahkamah Agung AS tengah memutuskan apakah akan menegakkan UU itu dan melarang TikTok pada Ahad (19/1).
Petugas polisi berjaga-jaga di depan Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) di Washington DC, AS, pada 1 Juli 2024. (Xinhua/Aaron Schwartz)
Foto yang diabadikan pada 12 Oktober 2023 ini menunjukkan layar ponsel yang menampilkan Aplikasi TikTok di luar Pengadilan Distrik Amerika Serikat (AS) untuk Distrik Montana di Missoula, Montana, AS. (Xinhua/Zeng Hui)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

PBB laporkan penurunan insiden akses kemanusiaan di Somalia
Indonesia
•
21 Oct 2024

Feature – Tradisi berburu bandeng Imlek, simbol keharmonisan budaya China dan Betawi
Indonesia
•
29 Jan 2025

Jumlah korban jiwa akibat gempa di China barat laut bertambah jadi 111
Indonesia
•
19 Dec 2023

COVID-19 – Taiwan manfaatkan teknologi inovatif tangani pandemik
Indonesia
•
20 May 2022
Berita Terbaru

Kolaborasi ponpes tahfizh MSQ dengan Indonesia Window tingkatkan kapasitas dakwah
Indonesia
•
30 Jan 2026

Antisipasi wabah Nipah, Singapura akan terapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026
