Opini – Strategi mitigasi sukses Samarinda hadapi ancaman longsor

Foto dari udara yang diabadikan pada 12 Agustus 2023 ini memperlihatkan lokasi longsor lumpur di Desa Weiziping di Luanzhen yang terletak di pinggiran Distrik Chang'an, Xi'an, Provinsi Shaanxi, China barat laut. (Xinhua/Zou Jingyi)
Oleh Naradila Regina Ardia Cahyani
Mitigasi bencana geologi tanah longsor adalah kunci untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia serta alam dan lingkungan berserta isinya.
Samarinda, kota yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur, dikenal sebagai ‘surga alam yang subur dan memesona’. Keelokan alamnya tak bisa disangkal, dengan hutan-hutan hijau yang terhampar luas dan sungai-sungai yang membelah lanskapnya.Namun, di balik keelokan alam yang memukau ini, terselip ancaman yang tak boleh diabaikan: bencana geologi yang dapat mengguncang fondasi kehidupan di kota ini, salah satunya adalah tanah longsor.Tanah longsor seperti ‘kilat di siang bolong’ karena dapat terjadi secara tiba-tiba, dan menyapu segala yang ‘berani’ berdiri di jalurnya.Secara ilmiah, fenomena ini adalah hasil dari interaksi kompleks antara berbagai faktor geologis, iklim, topografi, dan aktivitas manusia. Geologi memainkan peran utama dalam kejadian tanah longsor di Samarinda, karena struktur geologis dan jenis tanah di daerah ini dapat menjadi pemicu utama terjadinya peristiwa tersebut.Tanah longsor adalah fenomena alam yang penuh ketidakpastian, namun demikian, manusia masih bisa berperan – bahkan perannya sangat penting dalam mengurangi dampaknya.Mitigasi bencana geologi tanah longsor adalah kunci untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia serta alam dan lingkungan berserta isinya.Ancaman di SamarindaAncaman longsor di Kota Samarinda, khususnya di wilayah Jalan Sultan Alimudin, Kecamatan Sambutan, menjadi masalah serius yang mengharuskan kita untuk mengembangkan strategi mitigasi yang efektif.Berikut ini adalah beberapa faktor geologi dan geomorfologi yang harus dipahami secara komprehensif dan terintegrasi, agar mitigasi yang diupayakan memberikan dampak yang signifikan bagi keselamatan dan kesejahteraan manusia dan alam.Pertama adalah litologi atau jenis batuan. Sebagian besar wilayah Samarinda berdiri di atas lapisan lempung, yang merupakan materi yang sangat rentan terhadap erosi dan longsor ketika mengalami jenuh air. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang litologi ini menjadi kunci dalam mengidentifikasi potensi longsor.Berikutnya adalah recharge area, atau daerah pengisian air tanah. Penambahan air dalam tanah bisa meningkatkan beban pada lereng dan memperbesar potensi longsor. Karenanya, memantau dan mengelola recharge area dengan baik adalah bagian penting dari strategi mitigasiSelanjutnya adalah kemiringan lereng. Lereng dengan kemiringan yang curam memiliki potensi lebih besar mengalami longsor, terutama setelah curah hujan yang tinggi. Menganalisis dan mengurangi kemiringan lereng yang ekstrem dapat membantu mengurangi risiko longsor.Curah hujan yang tinggi juga menjadi faktor kunci terjadinya tanah longsor. Curah hujan yang berkepanjangan atau intensitas yang tinggi dapat membuat tanah lempung jenuh dengan air, sehingga meningkatkan risiko longsor. Dengan demikian, pemantauan cuaca dan sistem peringatan dini sangat penting dalam menyusun dan melaksanakan strategi mitigasi.Selain itu, penyebaran vegetasi juga dapat berperan dalam mengurangi risiko longsor. Akar tumbuhan dapat mengikat tanah dan mencegah erosi, sehingga menambah stabilitas lereng. Pemulihan vegetasi di daerah yang rentan longsor adalah bagian dari langkah-langkah yang bisa menyukseskan upaya mitigasi.Faktor yang lainnya adalah kondisi geomorfologi yang harus dievaluasi dengan cermat. Ini termasuk analisis topografi, geologi struktural, dan kondisi geomorfologi lainnya yang dapat memengaruhi risiko longsor.Dalam merajut harapan dan tindakan bersama, kita dapat menjadikan Samarinda sebagai contoh yang inspiratif dalam mengatasi ancaman bencana geologi yang menghantui banyak wilayah di seluruh dunia.Upaya mitigasi di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menunjukkan betapa pentingnya pemahaman terhadap faktor-faktor geologi dan geomorfologi.Pemantauan yang ketat, perencanaan yang cermat, serta partisipasi aktif masyarakat dan para ahli, berhasil mengurangi risiko longsor di wilayah tersebut.Dengan berpegang pada strategi ini, kita dapat terus menjaga keamanan dan kesejahteraan penduduk Kota Samarinda dalam menghadapi ancaman longsor di masa-masa mendatang.Penulis: Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Teknik Geologi, (dilaregina86@gmail.com)Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Menlu tekankan pentingnya kerja sama Selatan-Selatan
Indonesia
•
31 Dec 2023

Prangko bergambar wajah Dubes RI untuk Ukraina diluncurkan di Kyiv
Indonesia
•
22 Oct 2021

Rasio elektrifikasi 99,40 persen pada triwulan III 2021
Indonesia
•
20 Nov 2021

COVID-19 – 11 staf kantor perwakilan Taiwan di Indonesia terinfeksi
Indonesia
•
22 Jun 2021
Berita Terbaru

Feature - Napas budaya Mahasiswa Indonesia di Singapura
Indonesia
•
27 Jan 2026

Kajian ilmiah – Dr. Syafiq Riza Basalamah bedah urgensi akhlak dan kekuatan doa di CONNECT 2026
Indonesia
•
26 Jan 2026

Tantangan zaman makin kompleks, CONNECT 2026 hadirkan 'event' dakwah perspektif global
Indonesia
•
24 Jan 2026

Presiden Prabowo tandatangani piagam Dewan Perdamaian bentukan Trump
Indonesia
•
24 Jan 2026
