Telaah – Akankah AI pengaruhi masa depan sastra?

Anak-anak menjajal perangkat baca berteknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam ajang World Voice Expo keenam di Hefei, Provinsi Anhui, China timur, pada 24 Oktober 2023. (Xinhua/Zhou Mu)
Model AI seperti ChatGPT bergantung pada kumpulan data yang sangat besar. Namun, tidak ada langkah-langkah regulasi yang jelas, sehingga menimbulkan masalah signifikan terkait hak cipta dan keamanan.
Frankfurt, Jerman (Xinhua/Indonesia Window) – Bayangkan Anda hidup di sebuah dunia dengan pengalaman membaca yang dapat dipersonalisasi. Bayangkan Anda memiliki asisten yang mampu mengingat buku-buku yang Anda baca dan menganalisis preferensi serta reaksi emosi Anda, bertindak seperti seorang penulis pribadi yang menciptakan cerita-cerita unik hanya untuk Anda.Setiap halaman yang Anda buka terasa seperti percakapan dengan seorang teman lama yang memahami Anda dengan sempurna.Saat skenario yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya ini mendekati kenyataan dengan kemajuan pesat dalam teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), apakah Anda akan merasa takut, gembira, atau sekadar menikmati pengalaman itu?Gegap gempita seputar potensi transformatif AI terasa kuat dalam ajang Pameran Buku Frankfurt tahun ini. Para penerbit, penulis, dan penggemar teknologi di ajang tersebut sangat antusias untuk mengeksplorasi pengaruhnya terhadap dunia sastra.Pemenang atau pecundang?"Tidak peduli seberapa muda atau tua usia kita; AI akan menjadi sesuatu yang kita bicarakan sepanjang sisa hidup kita," kata Jeremy North, direktur pelaksana penerbitan buku di Taylor & Francis, kepada Xinhua. "Pertanyaan sebenarnya adalah: apakah kita akan menjadi pemenang AI atau pecundang AI? Jawabannya adalah pemenang AI, kita harus bersedia mengambil risiko dan bereksperimen, meskipun kita belum memiliki semua jawabannya."Niels Peter Thomas, direktur pelaksana penerbitan buku di Springer Nature, berbagi dengan Xinhua bahwa AI, yang didukung oleh pengawasan manusia yang tepat, berpotensi mempercepat penemuan."Springer Nature telah menggunakan AI selama lebih dari 10 tahun. Kami telah menerbitkan beberapa buku yang dibuat oleh mesin," tuturnya, seraya menambahkan bahwa perusahaan tersebut baru-baru ini menerbitkan buku akademis menggunakan AI generatif. "Butuh waktu kurang dari lima bulan dari awal hingga penerbitan, sekitar separuh dari waktu biasanya."Thomas mendesak kolaborasi antara penerbit, penulis, dan pemangku kepentingan untuk mengeksplorasi potensi dan batasan AI.Claudia Roth, Menteri Kebudayaan dan Media Jerman, mengatakan dalam sebuah diskusi panel bahwa AI telah mencapai kemajuan luar biasa selama bertahun-tahun."AI telah menjadi alat yang hebat, memberikan efisiensi dan kecepatan yang luar biasa, serta hasil yang mengesankan. Namun, apakah itu hanya sekadar alat, atau seperti sapu ajaib yang tidak dapat dihentikan oleh mantra apa pun?" katanya.
Seorang staf memperkenalkan penggunaan teknologi AIGC dalam restorasi buku kuno kepada seorang pengunjung dalam Konferensi AI Dunia 2024 di Shanghai, China timur, pada 6 Juli 2024. (Xinhua/Fang Zhe)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – AS setujui dosis ‘booster’ vaksin yang diperbarui untuk anak 5-17 tahun
Indonesia
•
13 Oct 2022

Situasi di Darfur Utara di Sudan masih "katastropik"
Indonesia
•
02 Nov 2025

Dosen Indonesia di China lihat kerja sama China-ASEAN semakin dalam
Indonesia
•
14 Sep 2022

UNICEF sebut 11 juta anak Yaman butuh bantuan kemanusiaan
Indonesia
•
27 Mar 2023
Berita Terbaru

Feature – Mengenal komunitas Hakka Indonesia di Museum TMII
Indonesia
•
28 Jan 2026

Feature – Dracin buat kaum muda Indonesia makin akrab dengan Imlek
Indonesia
•
28 Jan 2026

Sri Lanka pertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur
Indonesia
•
28 Jan 2026

30.000 lebih pekerja layanan kesehatan gelar aksi mogok kerja di California, AS
Indonesia
•
27 Jan 2026
