
OPEC proyeksikan pertumbuhan permintaan minyak yang kuat pada 2026

Foto yang diabadikan pada 30 November 2023 ini menunjukkan markas besar Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) di Wina, Austria. (Xinhua/He Canling)
OPEC memproyeksikan perekonomian dunia akan tumbuh 3,1 persen pada tahun ini dan 3,2 persen pada tahun depan, "yang ditopang oleh level pertumbuhan yang relatif stabil di sejumlah perekonomian utama."
Wina, Austria (Xinhua/Indonesia Window) – Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) pada Rabu (15/1) memproyeksikan permintaan minyak global akan tumbuh "kuat" sebanyak 1,43 juta barel per hari (bph) pada 2026, menjadi 106,63 juta bph.OPEC menuturkan bahwa proyeksi tersebut, yang merupakan penilaian pertama organisasi itu terkait tingkat permintaan minyak pada 2026, didasarkan pada "berlanjutnya aktivitas ekonomi yang solid di Asia dan negara-negara non-Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD) lainnya," menurut laporan pasar minyak bulanan OPEC yang dipublikasikan pada hari yang sama.Organisasi itu mempertahankan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global sebanyak 1,45 juta bph pada 2025.Dalam laporan pada Rabu, OPEC lebih lanjut memangkas estimasi permintaan minyak global pada 2024, dari 103,82 juta bph yang diproyeksikan bulan lalu menjadi 103,75 juta bph, menandai revisi turun untuk data permintaan tahun lalu selama enam bulan berturut-turut.Terkait suplai, OPEC menyampaikan bahwa pasokan bahan bakar cair dari negara-negara di luar OPEC+, aliansi produsen yang terdiri dari OPEC dan sekutunya, diperkirakan akan tumbuh 1,1 juta bph pada 2026, sama seperti tahun 2025 dan sekali lagi didorong terutama oleh peningkatan produksi dari Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada.OPEC juga memproyeksikan perekonomian dunia akan tumbuh 3,1 persen pada tahun ini dan 3,2 persen pada tahun depan, "yang ditopang oleh level pertumbuhan yang relatif stabil di sejumlah perekonomian utama.""Di dalam perekonomian non-OECD, negara-negara konsumen minyak utama seperti China dan India, bersama dengan perekonomian-perekonomian Asia yang sedang berkembang, diproyeksikan akan mempertahankan pertumbuhan mereka yang kuat, berkontribusi secara signifikan terhadap ekspansi ekonomi global," ujar organisasi tersebut.Dalam sebuah pertemuan tingkat menteri pada awal Desember 2024, OPEC+ sepakat untuk mempertahankan pemangkasan output minyak mereka saat ini untuk kuartal pertama 2025.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

PLTN Akkuyu beroperasi parsial pada 2025, penuhi ambisi nuklir Turkiye
Indonesia
•
12 Jan 2025

Harga minyak mentah Indonesia Januari naik menjadi 53,17 USD per barel
Indonesia
•
04 Feb 2021

Minyak turun karena kekhawatiran resesi dan pemulihan impor China lambat
Indonesia
•
08 Aug 2022

China lakukan sederet langkah demi jamin panen besar pada musim panas
Indonesia
•
14 Jun 2023


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
