Opini - Ketika gizi anak tidak sepenuhnya menguatkan peternakan dan UMKM pangan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat berfungsi sebagai pasar tetap bagi peternak kecil, penyangga harga hasil ternak, sekaligus penopang keberlanjutan UMKM pangan lokal.

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) - Upaya negara melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi.

Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, pemenuhan gizi sejak dini adalah investasi jangka panjang yang tidak dapat ditawar.

Anak yang sehat hari ini merupakan fondasi bagi bangsa yang kuat di masa depan.

Namun, kebijakan publik berskala besar selalu membawa konsekuensi yang luas. Karena itu, keberhasilannya tidak cukup diukur dari niat baik dan tujuan normatif semata, melainkan juga dari dampaknya terhadap ekosistem sosial dan ekonomi masyarakat secara menyeluruh.

Di sinilah pentingnya refleksi bersama, agar program sosial yang mulia tidak menimbulkan persoalan baru di tingkat akar rumput.

Dalam pelaksanaan MBG di sejumlah daerah, terlihat perubahan nyata pada lanskap ekonomi pangan lokal.

Dapur-dapur MBG tumbuh cepat, sementara di sisi lain warung makan kecil, katering rumahan, pedagang pangan, dan sebagian UMKM kuliner mulai kehilangan pasar.

Banyak di antara mereka tidak mampu masuk ke dalam skema program karena keterbatasan modal kerja, kemampuan logistik, serta ketidakmampuan menalangi sistem pembayaran yang tertunda.

Kondisi ini semakin terasa bagi peternak rakyat. Ayam, telur, dan bahan pangan segar yang seharusnya menjadi komponen utama menu MBG sejatinya tersedia melimpah di tingkat lokal.

Namun tanpa mekanisme penyerapan yang jelas dan inklusif, peternak kecil justru kesulitan mengakses pasar besar yang diciptakan oleh negara.

Rantai pasok cenderung terkonsentrasi pada penyedia bermodal besar yang memiliki kapasitas administrasi dan keuangan lebih kuat.

Bagi peternak dan UMKM pangan, persoalan utama bukan pada kemampuan produksi, melainkan pada akses pasar yang adil dan berkelanjutan.

Ketika pasar terbesar justru tidak terjangkau, mereka kembali bergantung pada pasar tradisional yang kian melemah. dan akibatnya manfaat ekonomi dari program nasional tidak sepenuhnya berputar di tingkat lokal.

Di titik ini, perlu diajukan pertanyaan reflektif: apakah program pemenuhan gizi sudah dapat dikatakan optimal, jika belum secara sistematis menyerap produksi peternak dan UMKM pangan rakyat?

Pemenuhan gizi anak memang penting, tetapi kemiskinan dan kerentanan ekonomi adalah persoalan struktural.

Memberi makan satu kali sehari merupakan langkah awal, namun tanpa penguatan ekonomi keluarga, ketahanan pangan rumah tangga akan terus rapuh.

Anak-anak mungkin kenyang hari ini, tetapi jika orang tuanya kehilangan penghasilan, ketidakpastian akan kembali muncul esok hari.

Padahal, MBG memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi rakyat jika dirancang dengan pendekatan ekosistem pangan.

Program ini dapat berfungsi sebagai pasar tetap bagi peternak kecil, penyangga harga hasil ternak, sekaligus penopang keberlanjutan UMKM pangan lokal. Keterlibatan koperasi peternak, kelompok tani, dan usaha kecil di sekitar dapur MBG akan memastikan bahwa anggaran negara berputar lebih luas dan merata.

Dari sisi kebijakan, negara memiliki ruang untuk melakukan penyempurnaan.

Mekanisme pengadaan dapat dirancang lebih ramah bagi usaha kecil melalui klasterisasi, kemitraan koperasi, serta sistem pembayaran yang lebih cepat.

Dengan demikian, MBG tidak hanya menjadi program konsumsi, tetapi juga instrumen pembangunan ekonomi berbasis rakyat.

Konstitusi menegaskan bahwa perekonomian nasional disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

Amanat ini mengandung makna bahwa kebijakan publik harus menjangkau mereka yang paling lemah posisinya dalam struktur ekonomi. Efisiensi teknokratis perlu berjalan seiring dengan keadilan sosial.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis.

Sebaliknya, ini merupakan ajakan untuk memperluas manfaatnya agar MBG tidak berhenti pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menghidupkan peternak rakyat dan UMKM pangan sebagai bagian dari ketahanan nasional.

Indonesia membutuhkan kebijakan yang utuh: anak-anak yang sehat, keluarga yang berdaya secara ekonomi, serta ekosistem pangan rakyat yang kuat.

Pembangunan berkelanjutan bukan hanya soal apa yang dikonsumsi hari ini, melainkan juga tentang siapa yang memproduksi, siapa yang bekerja, dan siapa yang memperoleh manfaatnya.

Jika MBG mampu menjawab tantangan ini, maka program tersebut tidak hanya akan dikenang sebagai program makan, tetapi sebagai tonggak penguatan gizi sekaligus keadilan ekonomi rakyat.

Penulis: Kusnan (Pelaku usaha peternakan dan UMKM pangan, pendidik, serta penggerak sosial yang berkegiatan dalam penguatan ekonomi rakyat berbasis komunitas)

Bagikan

Komentar

Berita Terkait