Pakar ekonomi Muslim serukan literasi geopolitik di tengah ketegangan global

Pakar ekonomi syariah dan pengembang model ProLM, Prof. Dr. Muhammad Syafii Antonio, menyampaikan pemaparan dalam kajian bertema 'Dari Gaza Hingga Hormuz: 7 Langkah Praktis Kita Untuk Kebangkitan Ekonomi dan Geopolitik Umat’, yang digelar di Kampus Universitas Tazkia Bogor, Jawa Barat, Ahad (10/5/2026). (Indonesia Window)

Meningkatkan literasi tentang perkembangan geopolitik dan media massa, dapat dilakukan dengan tiga keahlian: critical thinking, fact checking, dan strategic reading.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Pakar ekonomi syariah, Prof. Dr. Muhammad Syafii Antonio, menyerukan agar masyarakat, terutama kaum Muslim di Tanah Air, untuk meningkatkan literasi mereka tentang perkembangan geopolitik dan media massa.

“Jikalau kita melihat media, upayakan jangan terlalu banyak melihat (media) yang berbahasa Indonesia, kecuali dari sumber yang resmi. Kalau ingin mendengar media, dengarlah dari media berbahasa Inggris secara langsung. Dengan ini, maka kita akan mendapatkan ilmu yang konkret,” papar Prof. Syafii Antonio.

Ajakan tersebut disampaikan dalam kajian bertema ‘Dari Gaza Hingga Hormuz: 7 Langkah Praktis Kita Untuk Kebangkitan Ekonomi dan Geopolitik Umat’, yang digelar di Kampus Universitas Tazkia Bogor, Ahad.

Selanjutnya, pengembang model Prophetic Leadership and Management Wisdom (ProLM) tersebut juga mendorong agar masyarakat mengambil analisis dari para analis internasional menggunakan data dan statistik.

Menurut Prof. Syafii Antonio, selain perang yang terjadi di Timur Tengah, saat ini masyarakat dunia menghadapi “perang media, perang algoritma dan perang opini publik.”

“Maka, agar kita tidak terseret pada informasi yang salah, sehingga timbul su’u zhon (prasangka buruk) terhadap saudara kita, maka di sini diperlukan critical thinking ketika kita melihat sosial media,” ucapnya.

Pakar ekonomi syariah tersebut mengutip ayat suci Al-Qur’an dari Surat Al-Hujurat ayat 6, yang artinya: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.’

Dari ayat terebut, Prof. Syafii Antonio menekankan upaya ‘tabayyun’ atau meneliti, seraya menyayangkan kebiasaan yang umum dijumpai di tengah kaum Muslim, yang langsung “menelan mentah-mentah” semua berita yang didengar atau dibaca di media, lalu menyebarkan berita tersebut.

“Jika kita ketemu suatu konten, lakukan analisis terlebih dahulu sebelum di-share,” tegasnya.

Pendiri Universitas Tazkia tersebut menekankan tiga keahlian yang wajib dimiliki oleh Muslim dalam menilai berita di media massa, yakni critical thinking (pemikiran yang kritikal), fact checking (cek fakta untuk memverifikasi kebenaran suatu berita), dan strategic reading (membaca secara strategis).

Prof. Syafii Antonio mengingatkan agar selalu meng-cross-check data dari badan-badan resmi, termasuk merujuk kembali ke sumber-sumber asli suatu berita.

“Kalau ada ayat, buka kembali Al-Qur’an. Kalau ada hadits, cek apakah ini hadits shahih atau dhaif (lemah), atau hadits mutawatir, atau hadits ahad,” terangnya.

Tentang membaca secara strategis, akademisi Muslim tersebut mengedukasi cara membaca dengan memilah bagian bacaan yang penting dan tidak penting dari suatu halaman berita.

Dengan tiga skill tersebut, Prof. Syafii Antonio memastikan kaum Muslim di Indonesia tidak akan mudah terprovokasi oleh berita-berita bohong maupun palsu yang mudah viral di media massa dan media sosial.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait