
Pasar kosmetik makin kritis, inginkan produk ramah lingkungan

Direktur AVIN yang juga seorang farmasis, apt. Muhammad Afqary, menunjukkan produk serbuk dan permen 'gummy' yang dibuat dari kolang-kaling, dalam wawancara khusus dengan Indonesia Window, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (23/4/2025). (Indonesia Window)
Pasar produk kecantikan, termasuk kosmetik dan perawatan kulit, makin kritis dalam menilai dan memilih produk yang akan mereka pakai, dengan lebih mengutamakan lingkungan.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Pasar produk kecantikan, termasuk kosmetik dan perawatan kulit, makin kritis dalam menilai dan memilih produk yang akan mereka pakai, dengan lebih mengutamakan lingkungan.“Sekarang ini 50 persen pasar produk kosmetik di Indonesia lebih memilih untuk memakai produk kosmetik yang berbahan dasar alami karena mereka makin peduli dengan masalah lingkungan,” ujar Direktur PT Akademia Inovasi Indonesia (AVIN) yang juga seorang farmasis, apt. Muhammad Afqary, dalam wawancara khusus dengan Indonesia Window, baru-baru ini di Bogor.Menurutnya, dalam memilih produk-produk perawatan kecantikan kulit pasar akan menanyakan bahan dasar yang digunakan, bagaimana proses pembuatannya dan potensial pencemaran yang bisa ditimbulkan, serta kemasan yang digunakan apakah dapat didaur ulang.Tuntutan pasar di Tanah Air untuk mendapatkan produk berbahan dasar alami yang ramah lingkungan, lanjut apt. Afqary, relatif mudah dipenuhi karena Indonesia kaya akan sumber daya bahan aktif dari alam.“Indonesia berada di posisi kedua dalam hal keanekaragaman hayati daratan, setelah Brasil, tapi peringkat pertama sebagai pusat agro biodiversitas dunia apabila keanekaragaman hayati darat dan laut digabungkan,” ujarnya.Dia mencontohkan tanaman Sacha inchi, atau juga dikenal sebagai kacang inka atau kacang gunung, yang kaya akan asam lemak omega 3, omega 6, dan omega 9.“Dengan kandungan omega yang tinggi, tanaman ini bermanfaat untuk regenerasi tubuh, sehingga bagus juga untuk perawatan kulit,” imbuh apt. Afqary yang juga merupakan Kepala Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi (STTIF) Bogor tersebut.Sementara itu, bahan aktif yang berasal dari lingkungan laut bisa diambil dari ikan laut dalam, terutama yang hidup lebih dari 2.000 meter di bawah permukaan laut. “Semakin ekstrem kondisi lingkungan suatu makhluk itu hidup, maka pasti memiliki lebih banyak kandungan alam yang bisa kita manfaatkan,” ujarnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Freeport beralih ke penambangan bawah tanah mulai 2020-2023
Indonesia
•
22 Dec 2019

Pakar Kroasia sebut China bawa peluang ketimbang risiko bagi dunia
Indonesia
•
04 Jul 2023

Mobil Chery Q resmi diluncurkan di Jakarta, tawarkan fitur pengecasan daya cepat
Indonesia
•
19 May 2026

Negara-negara ASEAN gelar pertemuan untuk bahas rencana kerja sama finansial
Indonesia
•
24 Feb 2024


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
