
China tolak pembatasan masuk diskriminatif bagi wisatawannya

Wisatawan mengunjungi kota bertema film saat liburan Tahun Baru di wilayah Zhongmu, Zhengzhou, Provinsi Henan, China tengah, pada 31 Desember 2022. (Xinhua/Li An)
Pembatasan masuk wisatawan China oleh beberapa negara dinilai diskriminatif oleh pemerintah China yang telah melakukan komunikasi berbasis fakta dengan negara-negara terkait dan menguraikan penyempurnaan langkah-langkah COVID berbasis sains dan masuk akal, serta mempertimbangkan situasi COVID China saat ini.
Beijing, China (Xinhua) – China dengan tegas menentang sejumlah negara yang mengambil tindakan pembatasan masuk diskriminatif yang menargetkan China dan akan mengambil langkah balasan, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin pada Selasa (10/1).Wang mengatakan dalam konferensi pers harian ketika menjawab pertanyaan terkait bahwa sejak China mengumumkan keputusan untuk menangani COVID-19 dengan langkah-langkah penanganan penyakit menular Kelas B dan mengadopsi langkah-langkah sementara pada perjalanan lintas perbatasan, banyak negara memberikan sambutan baik, tetapi beberapa negara mengumumkan langkah-langkah pembatasan masuk yang menargetkan wisatawan dari China."Dengan sangat tulus, pihak China melakukan komunikasi berbasis fakta dengan negara-negara terkait dan menguraikan penyempurnaan langkah-langkah COVID kami yang berbasis sains dan masuk akal serta situasi COVID China saat ini," katanya.Sayangnya, segelintir negara, dengan mengabaikan sains, fakta, dan situasi epidemi aktual mereka, bersikeras mengambil tindakan pembatasan masuk diskriminatif yang menargetkan China, tuturnya."Kami sekali lagi mengimbau negara-negara terkait untuk memastikan bahwa tindakan respons COVID mereka berbasis fakta, berbasis sains, dan proporsional," kata Wang, menambahkan bahwa respons COVID tidak boleh digunakan sebagai dalih untuk manipulasi politik.Respons COVID tidak boleh diskriminatif dan tidak boleh memengaruhi perjalanan lintas perbatasan normal dan pertukaran serta kerja sama antarindividu, imbuhnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Di ruang kelas di Purwokerto, tiga bahasa menyatukan dua budaya
Indonesia
•
26 Apr 2026

The Seattle Times: Misinformasi medis buat harapan hidup warga AS lebih pendek
Indonesia
•
19 Apr 2023

AS alami bulan Juni terpanas kedua sepanjang sejarah di tengah gelombang panas
Indonesia
•
12 Jul 2024

Situs arkeologi Lebanon rusak parah di tengah konflik Hizbullah-Israel
Indonesia
•
10 Jan 2025


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
