Feature – Budi daya ikan air tawar di China timur ini soroti kearifan pertanian tradisional

Foto yang diabadikan pada 2 April 2024 ini menunjukkan Yu Shukang, seorang pembudi daya ikan di Desa Lingjiao, wilayah Xiuning, Provinsi Anhui, China timur, saat sedang meninjau kolam ikan yang dikembangbiakan menggunakan air dari sumber mata air alami setempat. (Xinhua/Wang Haiyue)
Pembudidayaan ikan air tawar mata air alami telah menjadi industri yang penting di wilayah Xiuning, yang berdampak pada peningkatan pendapatan warga desa.
Hefei, China (Xinhua) – Dengan kolam-kolam ikan berusia lebih dari 30 abad di sepanjang sungai yang jernih, Desa Lingjiao di wilayah Xiuning, Provinsi Anhui, China timur, memiliki suasana pertanian yang khas. Kolam-kolam tersebut dibangun dengan bebatuan lokal dan menjadi rumah bagi lebih dari 100 ikan karper rumput dan ikan karper merah yang berenang dengan bebas."Desa kami memiliki tradisi yang kaya dalam pembudidayaan ikan di sumber-sumber mata air alami yang tersebar di antara pegunungan. Suhu mata air pegunungan ini rendah, sehingga siklus perkembangbiakannya panjang dan ikannya tidak lembek serta lezat," tutur Yu Shukang, seorang warga Desa Lingjiao. Dia menambahkan bahwa mereka biasanya memberi makan ikan-ikan itu dengan rumput di gunung.Sama seperti Yu, banyak penduduk di wilayah Xiuning memiliki kolam ikan di dekat rumah mereka. Sebagai pengakuan atas signifikansinya, sistem pembudidayaan tersebut beserta teknik-teknik terkaitnya secara resmi telah diakui sebagai warisan budaya yang berharga di bidang pertanian China pada 2015.Dengan luas masing-masing beberapa meter persegi, kolam-kolam ikan yang tampak alami dan biasa itu sebenarnya mengandung banyak kearifan tradisional China, kata Li Wenjin dari biro sumber daya air wilayah Xiuning.Menurut Li, kolam-kolam tersebut terbuat dari bongkahan-bongkahan batu sehingga celah yang lebih besar di antara bebatuan tersebut bisa menjadi tempat tumbuhnya ganggang yang berfungsi sebagai makanan ikan. Kolam-kolam tersebut umumnya terletak di sepanjang sungai dan dapat mengalirkan air dari mata air ke dalam kolam melalui pipa serta membuang air kolam dengan memanfaatkan perbedaan ketinggian sungai di daerah pegunungan sehingga membentuk sistem sirkulasinya sendiri.Jenis ikan yang dibudidayakan terutama ikan karper rumput dan ikan karper merah. Ikan karper rumput tumbuh relatif cepat, sedangkan ikan karper merah merupakan ikan dasar kolam yang dapat membuang kotoran dengan cara mengaduk-aduk dasar kolam dengan tubuhnya sehingga menjaga air tetap jernih, tambah Li.Menurut Li, sistem pembudidayaan ini tidak hanya mencerminkan kemampuan beradaptasi manusia purba terhadap lingkungan pegunungan, tetapi juga mewujudkan koeksistensi yang harmonis dengan alam seraya menghormati hukum alam."Warga setempat juga menciptakan etiket religius pedesaan, adat istiadat, seni rakyat, dan budaya makan yang kaya yang didasarkan pada sistem pembudidayaan ini, yang juga merupakan bagian penting dari kearifan pertanian tradisional," ujar Li.Setelah diwariskan dan dikembangkan secara turun-temurun, jenis-jenis kolam ikan baru diciptakan dengan memadukan kearifan tradisional dan teknik modern, dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan pembudidayaan berskala besar.
Foto yang diabadikan pada 2 April 2024 ini menunjukkan sebuah kolam ikan kuno dengan pemanfaatan mata air lokal sebagai tempat pembudidayaan ikan di Desa Lingjiao, wilayah Xiuning, Provinsi Anhui, China timur. (Xinhua/Wang Haiyue)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Singapura denda dan penjarakan pengendara yang melintas di jalur khusus pejalan kaki
Indonesia
•
07 Jul 2025

Populasi Jepang turun jadi di bawah 125 juta jiwa
Indonesia
•
13 Apr 2024

Peristiwa hijrah Makkah-Madinah tandai tahun pertama Hijriah
Indonesia
•
19 Aug 2020

Otoritas Makanan Saudi batasi minum kopi sehari, cukup 15 cangkir
Indonesia
•
02 Oct 2022
Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
