
Kabul minta Washington bebaskan tahanan Afghanistan di Guantanamo

Foto yang diabadikan pada 18 Mei 2010 ini menunjukkan fasilitas penahanan Camp Delta di Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) di Teluk Guantanamo, Kuba. (Xinhua/Jiang Guopeng)
Pemerintah sementara Afghanistan telah meminta Washington untuk membebaskan satu-satunya tahanan Afghanistan yang masih ditahan di kamp penahanan Teluk Guantanamo yang kontroversial.
Kabul, Afghanistan (Xinhua) – Pemerintah sementara Afghanistan telah meminta Washington untuk membebaskan satu-satunya tahanan Afghanistan yang masih ditahan di kamp penahanan Teluk Guantanamo yang kontroversial, demikian dilaporkan oleh saluran televisi lokal TOLOnews pada Kamis (30/11)."Kami sedang melakukan kontak dengan Amerika Serikat (AS) untuk membebaskan Abdul Rahim. Dia adalah satu-satunya warga Afghanistan yang mendekam di Guantanamo. Dia tidak bersalah dan harus dibebaskan," lansir TOLOnews mengutip pernyataan kepala juru bicara pemerintah sementara Afghanistan, Zabihullah Mujahid.Menurut media swasta tersebut, Abdul Rahim, yang telah ditahan di kamp penahanan Teluk Guantanamo selama 17 tahun terakhir, ditangkap di Kota Lahore, Pakistan, sebelum akhirnya dipindahkan ke penjara militer AS di pangkalan angkatan laut Teluk Guantanamo itu.Putra Abdul Rahim, Mohammad Daud, mengatakan kepada TOLOnews bahwa dirinya baru berusia dua bulan saat ayahnya ditangkap, dan mendesak AS untuk membebaskan ayahnya.Situs jejaring Amnesty International UK menyebutkan, setelah serangan 11 September 2001, pemerintahan AS – yang dipimpin oleh George Bush – mendeklarasikan ‘perang melawan teror’. Dia berpendapat bahwa kebutuhan untuk melawan terorisme dan menjaga keamanan masyarakat mengesampingkan kewajiban untuk menghormati hak asasi manusia.Teluk Guantánamo didirikan oleh AS pada Januari 2002 sebagai tempat bagi pihak berwenang AS untuk menahan orang-orang yang dianggap sebagai ‘pejuang musuh’ dalam perang melawan terorisme. Tahanan pertama dipindahkan ke kamp penjara yang berbasis di Kuba itu pada 11 Januari 2002.Di Guantánamo, pemerintah AS berusaha menahan tahanan di tempat yang tidak menerapkan hukum AS maupun internasional.Fasilitas di Guantánamo telah menjadi simbol pelanggaran hak asasi manusia dan penyiksaan berat yang dilakukan oleh pemerintah AS atas nama kontraterorisme.Namun, komisi militer yang dibentuk untuk mengadili beberapa tahanan terbukti tidak efektif dan tidak adil, karena tidak ada hakim yang tidak memihak dan akses terhadap bukti-bukti penting. Penjara Guantanamo juga telah mengingkari hak para korban serangan 9/11 untuk mendapatkan keadilan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tingkat kepuasan terhadap Trump capai titik terendah di tengah lonjakan harga bbm dan penolakan perang Iran
Indonesia
•
25 Mar 2026

Mantan presiden Brasil Bolsonaro dijatuhi hukuman lebih dari 27 tahun penjara
Indonesia
•
12 Sep 2025

Bashar al-Assad kabur ke Moskow
Indonesia
•
09 Dec 2024

Diplomat senior China desak AS koreksi kesalahan dalam insiden balon udara
Indonesia
•
19 Feb 2023


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
