
Indonesia punya 6,3 juta hektare tanah hitam, tapi terancam hilang

Sebuah foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 19 September 2024 ini menunjukkan pemandangan hamparan sawah di Desa Ciasihan, Kabupaten Bogor. (Xinhua/Veri Sanovri)
Pemetaan tanah hitam di Indonesia tahap pertama menemukan 6,3 juta hektare yang tersebar di 14 provinsi, terutama telah dikelola untuk pertanian dan perkebunan.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan pemetaan tanah hitam di Indonesia tahap pertama, dan menemukan 6,3 juta hektare di 14 provinsi.Tanah kaya bahan organik tersebut ditemukan di Provinsi Aceh, beberapa wilayah di Pulau Jawa, Sulawesi, serta di Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Papua.“Jika konversi lahan dilakukan tanpa data valid, erosi akan terjadi, dan pengolahan tanah tidak intensif. Tanah hitam akan hilang, begitu juga stok karbonnya. Karena itu, identifikasi sebaran spasial dan proteksi tanah hitam sangat diperlukan,” ujar periset dari Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN, Destika Cahyana, dalam webinar ‘Pengelolaan Tanah Hitam Berkelanjutan Untuk Ketahanan Pangan dan Mitigasi Perubahan Iklim, Kamis (12/12).Destika menjelaskan, saat ini BRIN sedang menyiapkan pemetaan tanah hitam tahap kedua.“Sedangkan untuk tahap kedua, kami tengah melakukan klasifikasi di software SAGA dengan data DEM dan algoritme Landform. Kemudian pemisahan Mollisols dilakukan di software R dengan metode digital soil mapping atau machine learning,” terangnya.Selanjutnya, periset PRTP BRIN lainnya, Ahmad Suriadi, menjelaskan bahwa tanah hitam di NTB dikelola untuk kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, dan peternakan. “Pengelolaan dilakukan dengan sistem gogorancah untuk tanah kering dan penanaman gora, agar petani tidak perlu menyiangi lahan saat kering,” jelasnya.Dia juga menyarankan penggunaan herbisida selektif untuk menekan biaya penyiangan, serta menerapkan teknik konservasi air dengan embung guna meningkatkan produktivitas lahan tadah hujan.Sementara itu, Tony Basuki dari PRTP BRIN memaparkan pengelolaan tanah hitam di NTT yang tersebar di pulau-pulau kecil. “Kami mengelola tanah dengan pendekatan berbasis pengetahuan dan kearifan lokal, seperti teknik aisuak untuk mengolah tanah berat. Teknik ini membantu menggemburkan tanah setelah hujan,” urainya.Di Lembah Palu Sulawesi Tengah, Syafruddin dari PRTP BRIN menjelaskan tanah hitam dimanfaatkan untuk hortikultura, perkebunan kakao, kopi, dan palawija. “Pengelolaan tanah hitam di sini memerlukan pemupukan, teknik konservasi tanah dan air. Di samping itu juga diperlukan dukungan infrastruktur dan penyuluhan kepada para petani,” katanya.Dia mengajak masyarakat untuk merawat tanah hitam dan mendorong riset lebih lanjut, guna meningkatkan produktivitas dan mendukung swasembada pangan nasional.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti temukan mikroplastik di Antarktika
Indonesia
•
08 Jun 2022

Peneliti ungkap batuan dari benua tertua di Bumi
Indonesia
•
29 Jan 2020

Inventarisasi gletser baru di China indikasikan penyusutan enam persen selama 10 tahun lebih
Indonesia
•
24 Mar 2025

China catat peningkatan udara yang tercemar dalam enam bulan pertama 2023
Indonesia
•
17 Jul 2023


Berita Terbaru

Peneliti China kembangkan baterai lithium-sulfur baru untuk bantu ‘drone’ terbang lebih jauh
Indonesia
•
12 May 2026

Aplikasi AI Libra dukung aktivitas korporasi dan bisnis
Indonesia
•
12 May 2026

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026
