
Pendidikan buka jalan lebih luas bagi pelajar di bekas basis revolusioner China

Para siswa mengikuti pelajaran di kelas mereka di Sekolah Menengah Atas Yan'an di Yan'an, Provinsi Shaanxi, China barat laut, pada 27 Oktober 2022. (Xinhua/Zhang Bowen)
Bekas basis revolusioner China di Provinsi Shaanxi telah menumbuhkan banyak bakat lokal melalui pendidikan modern guna membantu memperluas wawasan generasi muda, seperti menyelenggarakan banyak kegiatan ekstrakurikuler.
Xi'an, China (Xinhua) – Menjelang malam hari, diskusi panas dan suara tawa terdengar dari sebuah sekolah menengah atas (SMA) yang terang benderang di Yan'an, bekas basis revolusioner di Provinsi Shaanxi, China barat laut.Bahkan di kelas satu SMA Yan'an, beberapa siswa dengan penuh semangat berbagi pemahaman mereka tentang berbagai topik, seperti kepercayaan budaya (cultural confidence)."Kepercayaan budaya adalah tentang inklusivitas, keterbukaan, kebanggaan, dan kepercayaan diri," ungkap Chang Ruixue (16), yang menambahkan bahwa sejarah sekolahnya yang kaya selalu mendorong mereka untuk melihat gambaran yang jauh lebih besar dan berjuang mengatasi berbagai tantangan maupun kesulitan.Sekolah Menengah Atas Yan'an merupakan SMA pertama yang didirikan oleh Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC) pada 1938. Sekolah ini memiliki sejarah yang gemilang serta tradisi revolusioner yang bagus dan telah menumbuhkan banyak bakat untuk wilayah-wilayah di bekas basis revolusioner itu.Berawal dari sebuah kampus dengan beberapa gua tempat tinggal, sekolah tersebut kini memiliki dua kampus dengan fasilitas modern dan 5.500 siswa.Selama satu dekade terakhir, Kota Yan'an telah menginvestasikan 11,5 miliar yuan untuk membangun dan menambah 501 taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah, menurut biro pendidikan setempat.Filosofi pendidikan modern juga telah diperkenalkan di sekolah-sekolah di Yan'an untuk membantu memperluas wawasan generasi muda, seperti menyelenggarakan banyak kegiatan ekstrakurikuler.Zhang Yazun (13), seorang siswa sekolah menengah setempat, mengatakan bahwa dirinya merasa puas menjadi sukarelawan pemandu wisata paruh waktu di beberapa situs revolusioner pada akhir pekan."Kesempatan ini sangat meningkatkan kepercayaan diri putri saya, dan dia menunjukkan minat yang lebih besar dalam dunia penyiaran juga pembawa acara," kata Hou Junyu, ibu Zhang.Sekarang, hampir 50.000 pelajar yang menjadi sukarelawan seperti Zhang telah membantu di beberapa museum, aula peringatan, dan situs revolusioner di Yan'an sebagai pemandu wisata saat waktu luang mereka.Yan'an membangun kemitraan kerja sama dengan 88 sekolah di lebih dari 10 provinsi dan wilayah di seluruh China, termasuk Beijing dan Shanghai, yang membantu meningkatkan kualitas pendidikan di bekas basis revolusioner itu."Menjadi seorang diplomat merupakan impian besar bagi saya karena saya ingin bersinar di kancah global ketika saya dewasa nanti," ujar Chang Ruixue.*1 yuan = 2.151 rupiahLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Kisah – Mahasiswa Indonesia dalami kungfu di kamp pelatihan seni bela diri di Shanxi, China
Indonesia
•
15 Oct 2024

Eropa dilanda cuaca ekstrem, sektor perjalanan alami gangguan
Indonesia
•
07 Jan 2025

Survei ungkap tingkat merokok di kalangan pelajar sekolah menengah China turun
Indonesia
•
02 Jun 2024

Peneliti China berhasil transplantasikan organ dan jaringan babi pada monyet
Indonesia
•
27 Oct 2022


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
