
Perang Timur Tengah bikin Australia “makin miskin”, inflasi kembali mengancam

Sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menampilkan harga bahan bakar minyak di Canberra, Australia, pada 29 April 2026. (Xinhua/Zhang Na)
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah membuat warga Australia kian miskin dan mendorong timbulnya risiko kenaikan inflasi, demikian disampaikan kepala bank sentral negara tersebut pada Jumat (18/9).
Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Michele Bullock menyampaikan dalam sidang dengar pendapat parlemen di Canberra bahwa risiko kenaikan inflasi tampak mulai nyata, dengan lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan akan secara langsung berdampak pada inflasi.
Guncangan pasokan ini, khususnya yang terjadi di Timur Tengah, memperburuk trade-off antara inflasi dan lapangan kerja, tuturnya.
"Saya rasa kita harus mengakui bahwa trade-off sudah semakin memburuk, sehingga guncangan di Timur Tengah kali ini telah membuat kita semakin miskin, dan kita tidak bisa merespons hal itu dengan membiarkan inflasi tidak terkendali."
Dewan Kebijakan Moneter RBA, yang dipimpin oleh Bullock, akan menggelar pertemuan berikutnya pada akhir September untuk mempertimbangkan tingkat suku bunga.
Dewan tersebut telah tiga kali menaikkan target suku bunga pasar uang, atau cash rate target, sebesar 0,25 poin persentase dalam enam bulan pertama 2026, namun tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35 persen dalam pertemuan-pertemuan terbarunya pada Juni dan Agustus.
Bullock menyebutkan bahwa pertemuan pada akhir September mendatang akan mempertimbangkan apakah tingkat suku bunga saat ini akan cukup untuk mengembalikan inflasi ke dalam kisaran target RBA sebesar 2-3 persen dalam jangka waktu yang wajar.
"Saat ini, semakin penting bagi kita untuk mengembalikan inflasi ke kisaran target," tuturnya.
Data terbaru dari Biro Statistik Australia menunjukkan bahwa inflasi tahunan turun dari 3,8 persen pada Juni menjadi 3,5 persen pada Juli, menjadikannya angka terendah sejak November 2025.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

PM Kamboja sebut BRI China sangat untungkan Kamboja dan negara partisipan lainnya
Indonesia
•
03 Jan 2023

Iran teken perjanjian proyek gas, LNG senilai 40 miliar dolar AS dengan Rusia
Indonesia
•
10 Nov 2022

Gamescom 2026 pecahkan rekor, 1.600+ peserta dari 67 negara ramaikan pameran gim dunia
Indonesia
•
27 Aug 2026

Pendapatan kuartalan Apple turun 4 persen, penjualan jasa catat rekor tertinggi
Indonesia
•
05 May 2024


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
