
Pertemuan darurat OKI tolak perluasan permukiman Israel

Foto yang diabadikan pada 9 Februari 2026 ini menunjukkan permukiman Israel di Kota Hebron, Tepi Barat. (Xinhua/Mamoun Wazwaz)
Penolakan terhadap perluasan permukiman Israel disampaikan dalam pertemuan darurat tingkat menteri luar negeri Komite Eksekutif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Jeddah, Arab Saudi (Xinhua/Indonesia Window) – Penolakan terhadap perluasan permukiman Israel disampaikan dalam pertemuan darurat tingkat menteri luar negeri Komite Eksekutif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada Kamis (26/2).
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis usai pertemuan itu, OKI secara tegas mengecam langkah-langkah yang dilakukan Israel untuk memperluas aktivitas permukiman di wilayah Palestina yang diduduki.
Pertemuan itu juga mengecam pernyataan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel Mike Huckabee dan mengkritik keputusan Kedutaan Besar AS yang memberikan layanan konsuler kepada para pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki, dan menyebut langkah semacam itu mendorong kendali Israel atas tanah Palestina dan Arab.
Para peserta pertemuan menyerukan percepatan penerapan rencana yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, termasuk melanjutkan rencananya ke tahap kedua, mewujudkan gencatan senjata yang komprehensif dan berkelanjutan, memastikan penarikan penuh pasukan Israel, serta memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke Jalur Gaza.
Pertemuan itu menyatakan dukungan terhadap Negara Palestina dalam melakukan upaya pemulihan dan rekonstruksi, sembari menegaskan kembali kesatuan wilayah Palestina, termasuk Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Pertemuan tersebut memutuskan untuk menempuh langkah-langkah politik dan hukum untuk menggugat kebijakan Israel. OKI menyerukan kepada komunitas internasional agar menyediakan perlindungan bagi masyarakat Palestina dan menegaskan kembali dukungannya terhadap berbagai upaya untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas dugaan pelanggaran yang dilakukannya.
Pertemuan itu menyuarakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan dan retorika yang semakin arogan di Timur Tengah, termasuk laporan ancaman penggunaan kekuatan terhadap Iran serta penguatan pasukan militer ofensif.
Pertemuan itu memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan militer dapat menimbulkan konsekuensi yang serius dan tidak dapat diprediksi bagi perdamaian dan keamanan regional maupun global, serta berdampak negatif terhadap stabilitas ekonomi, ketahanan energi, dan prospek pembangunan perekonomian-perekonomian yang sedang berkembang (emerging).
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Mali, Burkina Faso, dan Niger mundur dari ECOWAS
Indonesia
•
29 Jan 2024

PM baru Lebanon janji akan mulai babak baru
Indonesia
•
15 Jan 2025

LinkedIn kembali PHK 668 karyawan
Indonesia
•
18 Oct 2023

China tolak tegas draf terkait Xizang diloloskan jadi UU oleh AS
Indonesia
•
15 Jul 2024


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
