
OECD pangkas proyeksi pertumbuhan PDB global jadi 3,2 persen pada 2025 dan 2,9 persen pada 2026

Foto dari udara yang diabadikan pada 3 April 2025 ini menunjukkan pemandangan sebuah pelabuhan di Rio de Janeiro, Brasil. (Xinhua/Wang Tiancong)
Pertumbuhan PDB global diproyeksikan akan melambat dari 3,3 persen pada 2024 menjadi 3,2 persen pada 2025, dan melambat lebih lanjut menjadi 2,9 persen pada 2026.
Paris, Prancis (Xinhua/Indonesia Window) – Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global diproyeksikan akan melambat dari 3,3 persen pada 2024 menjadi 3,2 persen pada 2025, dan melambat lebih lanjut menjadi 2,9 persen pada 2026, menurut Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD) dalam laporan Economic Outlook terbarunya yang dirilis pada Selasa (23/9).OECD menyampaikan bahwa revisi penurunan dari perkiraan sebelumnya mencerminkan berakhirnya front-loading dalam perdagangan dan dampak kenaikan tarif yang lebih tinggi serta ketidakpastian kebijakan yang berkelanjutan, yang menekan investasi dan perdagangan global.Meskipun prospek pertumbuhan ekonomi global dalam jangka menengah diperkirakan melemah, pertumbuhannya pada H1 2025 menunjukkan ketahanan yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya, terutama di banyak emerging market. Produksi industri dan perdagangan mengalami dorongan sementara karena perusahaan-perusahaan mempercepat pengiriman barang sebelum diberlakukannya kenaikan tarif.Sejak Mei, AS secara tajam menaikkan tarif bilateral terhadap hampir seluruh mitra dagangnya. OECD memperkirakan tarif efektif AS telah naik menjadi 19,5 persen per akhir Agustus, yang merupakan level tertinggi sejak 1933.Laporan tersebut memperingatkan bahwa risiko terhadap prospek ekonomi masih tetap tinggi. Faktor-faktor yang berpotensi memicu perlambatan pertumbuhan meliputi eskalasi tarif lebih lanjut, tekanan inflasi yang kembali meningkat, meningkatnya kekhawatiran fiskal, serta ketidakstabilan pasar keuangan.Bagi AS, pertumbuhan PDB diproyeksikan akan menurun dari 2,8 persen pada 2024 menjadi 1,8 persen pada 2025, dan menurun lebih lanjut menjadi 1,5 persen pada 2026. Meskipun investasi yang kuat di sektor teknologi tinggi memberikan dorongan positif bagi perekonomian AS, efek tersebut tertahan oleh dampak negatif dari kebijakan tarif serta penurunan imigrasi bersih.Di kawasan euro, PDB diproyeksikan akan tumbuh sebesar 1,2 persen pada 2025 dan 1,0 persen pada 2026. Meskipun kondisi kredit yang lebih longgar memberikan dukungan tertentu, gesekan perdagangan dan ketidakpastian geopolitik diperkirakan akan membatasi momentum pertumbuhan.Untuk ke depannya, OECD menekankan bahwa reformasi struktural sangat penting untuk secara berkelanjutan meningkatkan standar hidup dan sepenuhnya memperoleh manfaat dari berbagai teknologi baru seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Minyak melonjak 4 persen, harga bensin AS capai rekor tertinggi
Indonesia
•
14 May 2022

Feature – Ekonomi ‘influencer’ bangkitkan kembali pasar kamera di China
Indonesia
•
11 Oct 2024

Ekonom sebut resesi AS akan berlangsung lama dan berat
Indonesia
•
19 Aug 2022

Uang beredar meningkat pada Oktober jadi 7.490,7 triliun rupiah
Indonesia
•
23 Nov 2021


Berita Terbaru

China bisa jadi penopang prospek ekonomi Indonesia di tengah risiko perlambatan
Indonesia
•
11 May 2026

Bank Sentral Malaysia dan Indonesia teken MoU untuk perdalam kerja sama
Indonesia
•
11 May 2026

Sertifikat asal dari bea cukai China timur laut fasilitasi produk China masuki pasar Indonesia
Indonesia
•
10 May 2026

Permintaan cip tetap kuat di tengah ketegangan geopolitik
Indonesia
•
07 May 2026
