
Pezeshkian: Lebih baik akhiri perang sekarang, Iran tak akan tunduk pada intimidasi AS

Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara saat berkunjung ke kantor pusat Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran (IRCS) di Teheran, Iran, pada 15 April 2026. (Xinhua/Shadati)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Jumat (21/8) mengatakan bahwa lebih baik mengakhiri perang sekarang karena Iran berada dalam posisi yang "kuat dan bermartabat".
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut dalam Sidang Umum ke-31 Asosiasi Islam Perhimpunan Medis Iran (Islamic Association of the Iranian Medical Society) di ibu kota Teheran, saat dia menekankan bahwa perang dengan Amerika Serikat (AS) pada akhirnya harus berakhir, menurut pernyataan yang dipublikasikan di situs jejaring kantornya.
"Lebih baik kita mengakhiri perang ini sekarang, saat kita berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat, dan seluruh dunia mengakui kemenangan kita serta menegaskan bahwa AS, yang melanggar semua peraturan (internasional), telah menyerang sekolah, rumah sakit serta infrastruktur kita, dan dibenci di seluruh dunia," katanya.
Pezeshkian menggambarkan nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani antara Iran dan AS pada Juni sebagai sesuatu yang "terhormat dan berharga", seraya menekankan bahwa tidak ada satu pun ketentuan dalam MoU tersebut yang mengisyaratkan penyerahan diri dan bahwa semua kewajiban menjadi tanggung jawab pihak lain.
Dia mengatakan bahwa apa yang dicapai dalam perundingan dengan AS merupakan "pencapaian besar", yang disetujui dengan semangat "persatuan dan solidaritas" di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran, dan seluruh anggota dewan tersebut membelanya dengan tegas.
Namun, sang presiden menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah jika diserang kembali, seraya mengatakan, "Kita tidak akan tunduk pada tindakan intimidasi dalam keadaan apa pun, dan tidak ada keraguan mengenai hal itu."
"Kita akan melawan mereka hingga napas terakhir dan akan memberikan respons yang menghancurkan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa para komandan militer dan angkatan bersenjata Iran "dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih" telah siap sepenuhnya untuk membela negara.
Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani MoU tentang penghentian perang mereka di semua front di Timur Tengah. Berdasarkan MoU tersebut, kedua negara dijadwalkan mengadakan perundingan dalam jangka waktu 60 hari, yang berakhir pada Senin (17/8), untuk mencapai kesepakatan final.
Namun, nasib perundingan tersebut masih belum jelas menyusul meningkatnya ketegangan antara kedua negara bulan lalu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Krisis Ukraina munculkan kembali isu otonomi strategis UE
Indonesia
•
24 Feb 2023

Iran bantah tuduhan terlibat dalam serangan Houthi ke Israel
Indonesia
•
06 May 2025

Menteri Ketenagakerjaan AS mundur di tengah penyelidikan dugaan pelanggaran etika
Indonesia
•
21 Apr 2026

Medvedev: Hubungan Rusia-AS akan tetap hadapi tantangan dalam beberapa dekade
Indonesia
•
23 Feb 2024


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
