
FAO: Bencana sebabkan kerugian tanaman pangan dan ternak senilai 3,8 triliun dolar AS dalam 30 tahun

Perahu-perahu kayu terlihat di dasar waduk yang mengering saat musim kemarau di Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, pada 6 Oktober 2023. (Xinhua/Bram Selo)
Produksi tanaman pangan dan ternak senilai sekitar 3,8 triliun dolar AS musnah akibat bencana, setara dengan kerugian rata-rata 123 miliar dolar AS per tahun, atau 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian global tahunan.
Roma, Italia (Xinhua) – Dalam 30 tahun terakhir, produksi tanaman pangan dan ternak senilai sekitar 3,8 triliun dolar AS musnah akibat bencana, setara dengan kerugian rata-rata 123 miliar dolar AS per tahun, atau 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian global tahunan, menurut sebuah laporan baru yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pada Sabtu (14/10).Sebuah laporan utama baru FAO yang bertajuk ‘Dampak bencana terhadap pertanian dan ketahanan pangan’ menyajikan estimasi global untuk kali pertama mengenai dampak bencana terhadap produksi pertanian yang difokuskan pada tanaman pangan dan ternak.Laporan itu juga menyebutkan bahwa angka tersebut mungkin akan lebih tinggi jika data sistematis mengenai kerugian di subsektor perikanan, akuakultur, dan kehutanan tersedia."Dalam 30 tahun terakhir, bencana menyebabkan kerugian relatif paling besar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, masing-masing berkisar antara 10 hingga 15 persen dari total PDB pertanian. Bencana juga berdampak signifikan terhadap negara-negara kepulauan kecil, menyebabkan mereka kehilangan hampir 7 persen dari PDB pertanian mereka. Hilangnya produksi pertanian menyebabkan berkurangnya ketersediaan nutrisi secara signifikan dengan hilangnya energi makanan yang diperkirakan mencapai 147 kilo kalori per orang untuk sehari di tingkat global dari 1991 hingga 2021," ujar Kepala ekonom FAO, Maximo Torero.Laporan tersebut juga menguraikan tiga prioritas utama untuk dilakukan, yaitu meningkatkan data dan informasi mengenai dampak bencana terhadap semua subsektor pertanian seperti tanaman pangan, peternakan, perikanan dan akuakultur, serta kehutanan, mengembangkan dan menyelaraskan pendekatan pengurangan risiko bencana multisektor dan multibahaya ke dalam kebijakan dan pemrograman di semua tingkatan, serta meningkatkan investasi dalam ketahanan yang dapat memberikan manfaat dalam mengurangi risiko bencana di sektor pertanian serta meningkatkan produksi pertanian dan mata pencaharian.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Fokus Berita – Hanya separuh anak muda yang benar-benar paham soal perubahan iklim
Indonesia
•
09 Dec 2023

IOC umumkan Tim Olimpiade Pengungsi dengan 36 atlet untuk Olimpiade Paris 2024
Indonesia
•
05 May 2024

COVID-19 - Laboratorium Saudi lakukan 53.000 uji COVID-19 setiap hari
Indonesia
•
05 Jul 2020

Survei: Warga di ‘emerging Asia’ optimistis tentang masa depan pribadi dan negara
Indonesia
•
23 Sep 2022


Berita Terbaru

Di New York, Taiwan tunjukkan kepeloporan dalam kesetaraan gender
Indonesia
•
17 Mar 2026

Ramadan 1447H – Kamar Dagang China di Indonesia beri bantuan kepada buruh rentan, via kerja sama dengan Serikat Buruh Muslim Indonesia
Indonesia
•
13 Mar 2026

Feature – Pengobatan tradisional China solusi kesehatan mental di zaman modern
Indonesia
•
14 Mar 2026

Mengintip aksi pendongeng hibur murid SD di Banten
Indonesia
•
11 Mar 2026
