
Prof. Syafi’i Antonio: Zikir dalam Islam bukan sekadar ucapan, tetapi kesadaran dan perilaku

Rektor Universitas Tazkia, Prof. Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, Lc, M.Ec, dalam seminar prophetic leadership and management wisdom (ProLM), di Bogor, Ahad (13/9). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)
Pemahaman tentang zikir sering kali dipersempit hanya pada zikir lisan, padahal zikir memiliki beberapa tingkatan yang mencakup ucapan, pikiran, hati, hingga perilaku.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Dalam kajian tentang psikospiritual modern, zikir dalam Islam dipandang bukan sekadar aktivitas mengucapkan kalimat-kalimat tertentu, tetapi juga sebagai proses membangun kesadaran akan kehadiran Allah Subhanahu wa Ta'ala (ﷻ) dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep tersebut memiliki kedekatan dengan gagasan mindfulness atau kesadaran penuh, namun, dalam perspektif Islam, kesadaran tersebut diarahkan pada hubungan manusia dengan Allah ﷻ, kata Rektor Universitas Tazkia, Prof. Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, Lc, M.Ec, dalam seminar prophetic leadership and management wisdom (ProLM) dengan judul Reset Our Soul Architecture, di Bogor, Ahad (13/9).
Seminar tersebut antara lain dihadiri oleh Ketua Yayasan Garda Mualaf Indonesia Koh Dondy Tan, Ketua Yayasan Tazkia Mukhlis Yusuf, keluarga besar Tazkia, pengurus yayasan rektorat dan segenap unit Tazkia.

Menurut Prof. Syafi Antonio, pemahaman tentang zikir sering kali dipersempit hanya pada zikir lisan, padahal zikir memiliki beberapa tingkatan yang mencakup ucapan, pikiran, hati, hingga perilaku.
Prof. Syafi Antonio mengungkapkan, ada empat tingkatan zikir, yitu, pertama, zikir lisani: Mengingat Allah ﷻ dengan lisan.
“Tingkat pertama adalah zikrul lisani, yaitu zikir yang dilakukan melalui ucapan, contohnya adalah membaca: ’Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, Allahu akbar, la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim,’ dia menjelaskan, seraya menambahkan, namun, zikir tidak berhenti pada ucapan.
Tingkat kedua adalah zikir fikri, yakni ketika seseorang tidak hanya mengucapkan kalimat zikir, tetapi juga memikirkan dan menghubungkannya dengan berbagai fenomena kehidupan, jelasnya.
“Sebagai contoh, ketika mengucapkan ‘Subhanallah’, seseorang dapat merenungkan kebesaran Allah ﷻ melalui berbagai peristiwa alam, seperti kerusakan lingkungan, dahsyatnya gelombang tsunami, atau fenomena gunung berapi,” ungkapnya.
Prof. Syafi Antonio lebih lanjut menjelaskan, pada tahap tersebut, zikir mulai masuk ke wilayah pemikiran, ilmu pengetahuan, dan proses perenungan pada ciptaan Allah ﷻ.
Konsep tersebut dikaitkan dengan Surah Ali Imran ayat 191, yang menggambarkan orang-orang yang mengingat Allah ﷻ ketika berdiri, duduk, maupun berbaring, sekaligus memikirkan penciptaan langit dan bumi, jelasnya.
Dengan demikian, lanjutnya, zikir tidak hanya menjadi aktivitas lisan, tetapi juga mendorong manusia untuk berpikir mengenai kompleksitas alam semesta dan mekanisme penciptaan.
Tingkat berikutnya adalah zikrul qolbi, yaitu ketika makna zikir telah masuk dan dihayati oleh hati, katanya, seraya menjelaskan, seseorang tidak hanya mengucapkan ‘Subhanallah’, tetapi juga merasakan kebesaran dan kesucian Allah ﷻ atas seluruh ciptaan-Nya.
“Pada tahap ini, zikir berubah dari sekadar ucapan dan pemikiran menjadi pengalaman batin. Manusia merasakan hubungan spiritual yang lebih kuat dengan Allah ﷻ,” tambahnya.
Tingkat keempat adalah zikir arkani, yang berkaitan dengan seluruh anggota tubuh dan perilaku manusia, katanya, seraya m enambahkan, zikir dianggap belum sempurna apabila ucapan tidak sejalan dengan tindakan.
“Misalnya, seseorang mengucapkan istigfar, tetapi tetap datang terlambat ke kantor, tidak menjalankan kewajiban dengan baik, atau masih menggunjing orang lain,” ucapnya.
Begitu pula seseorang yang berdoa agar dijauhkan dari api neraka, tetapi mendatangi tempat yang dilarang, menggunakan mata untuk melihat hal-hal yang tidak semestinya, menggunakan lisan untuk menggunjing, atau memasukkan makanan haram ke dalam tubuh, katanya.
Dengan demikian, zikir arkani menekankan bahwa kesadaran spiritual harus diwujudkan melalui seluruh anggota tubuh dan perilaku, ujarnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Univesitas Islam As-Syafi’iyah akan dirikan Museum Genosida Palestina
Indonesia
•
16 May 2024

Pemerintah luncurkan kebijakan satu peta guna percepatan pembangunan nasional
Indonesia
•
19 Jul 2024

Syekh Ali Jaber wafat dalam usia 44 tahun setelah 17 hari dirawat
Indonesia
•
14 Jan 2021

Presiden bentuk satgas percepatan rehabilitasi, rekonstruksi pascabencana Sumatra
Indonesia
•
07 Jan 2026


Berita Terbaru

China-Indonesia perkuat diplomasi parlemen, kerja sama substantif jadi sasaran
Indonesia
•
21 Sep 2026

Pemerintah siapkan produksi E20 dalam dua tahun, tebu jadi sumber etanol
Indonesia
•
20 Sep 2026

ADB setujui 11,51 triliun rupiah untuk indonesia, fokus pada fiskal, digitalisasi, dan layanan publik
Indonesia
•
19 Sep 2026

Kemnaker bekali penyandang disabilitas keterampilan membuat jus sehat
Indonesia
•
18 Sep 2026
