
Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"

Foto yang diabadikan pada 21 Mei 2023 ini menunjukkan logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan latar belakang kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss. (Xinhua/Lian Yi)
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Sabtu (9/5) mengatakan bahwa semua orang yang berada di atas kapal pesiar yang terdampak wabah hantavirus harus dianggap sebagai kontak "berisiko tinggi" dan dipantau secara aktif selama 42 hari.
"Kami mengklasifikasikan semua orang di atas kapal sebagai apa yang kami sebut kontak berisiko tinggi," tutur Maria Van Kerkhove, direktur kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi dan pandemi WHO, dalam sebuah konferensi pers. Dia mengatakan bahwa saat ini "tidak ada seorang pun di atas kapal yang menunjukkan gejala." Akan tetapi, dia merekomendasikan "pemantauan dan penindaklanjutan aktif terhadap seluruh penumpang dan awak kapal yang turun dari kapal selama periode 42 hari."
Namun, Kerkhove menegaskan bahwa risiko bagi masyarakat umum dan warga Kepulauan Canary, yang merupakan tempat kapal MV Hondius dijadwalkan akan berlabuh pada Ahad (10/5), masih tergolong "rendah."
Menurut update berita Disease Outbreak News WHO pada Sabtu, penyakit pernapasan parah pertama kali dilaporkan di kapal pesiar tersebut pada 2 Mei. Saat itu, terdapat 147 penumpang dan awak kapal di atas kapal, sementara 34 lainnya telah turun lebih dahulu. Seluruh titik kontak WHO di negara-negara terkait telah diberi informasi dan mendukung pelacakan kontak internasional.
Hingga Jumat (8/5), delapan kasus bergejala telah dilaporkan, termasuk tiga kematian. Enam kasus telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium sebagai infeksi hantavirus Andes (ANDV).
WHO mendesak negara-negara yang terlibat untuk terus melanjutkan koordinasi kesehatan masyarakat, termasuk pelacakan kontak, penanganan kasus, pencegahan penularan, serta komunikasi yang transparan.
Menurut WHO, gejala awal infeksi hantavirus meliputi sakit kepala, pusing, menggigil, demam, nyeri otot, serta gangguan pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut.
Mengingat penularan pragejala dalam wabah ANDV sebelumnya tidak sepenuhnya dapat dikesampingkan, WHO juga merekomendasikan pemantauan mandiri, evaluasi medis, dan penggunaan masker untuk kontak-kontak berisiko rendah apabila gejala muncul.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Dengan bahasa menguasai dunia
Indonesia
•
31 Oct 2019

Hujan salju lebat di China utara sebabkan gangguan pada kegiatan pembelajaran dan lalu lintas
Indonesia
•
12 Dec 2023

Sebagian dari serangan jantung di UEA dialami pasien di bawah 50 tahun
Indonesia
•
04 Oct 2022

Pasangan panda raksasa China tiba di Spanyol
Indonesia
•
03 May 2024


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

37 orang tewas dalam ledakan pabrik kembang api di China tengah
Indonesia
•
08 May 2026
