
Serangan terhadap depot minyak di Timur Tengah bisa sebabkan hujan beracun

Foto yang diabadikan pada 7 Maret 2026 ini menunjukkan asap membubung setelah serangan udara Israel di Teheran, Iran. (Xinhua/Shadati)
Hujan hitam dan hujan asam mengguyur Teheran pascaserangan AS-Israel terhadap depot minyak, ancam rakyat Iran.
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (10/3) mengatakan bahwa 10 hari perang di Timur Tengah telah mengacaukan kehidupan di seluruh kawasan tersebut dan wilayah sekitarnya, dengan "hujan hitam" beracun akibat serangan terhadap depot minyak, serta gangguan pada rantai pasokan kemanusiaan yang menimbulkan dampak luas.
Berbicara dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, Ravina Shamdasani, juru bicara (jubir) Kantor Hak Asasi Manusia PBB, mengutarakan kekhawatiran mengenai dampak kesehatan dan lingkungan akibat serangan Israel dan AS terhadap depot minyak di Iran, seiring menyebarnya polutan beracun di udara.
Dia menyebutkan bahwa dampak ini memicu "pertanyaan-pertanyaan serius mengenai apakah kewajiban proporsionalitas dan prinsip kehati-hatian sesuai hukum kemanusiaan internasional telah dipenuhi" dalam serangan tersebut, seraya menekankan bahwa lokasi-lokasi yang terkena serangan "tampaknya tidak digunakan secara eksklusif untuk keperluan militer".
Christian Lindmeier, jubir Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memperingatkan bahwa "hujan hitam" dan "hujan asam" yang mengguyur Teheran pascaserangan tersebut merupakan "bahaya nyata" bagi rakyat Iran.
"Kami terus berkoordinasi dengan pihak rumah sakit serta otoritas terkait, dan otoritas Iran telah mengeluarkan peringatan yang menyarankan warga untuk tetap berada di dalam rumah, terutama mengingat adanya serangan terhadap gudang-gudang minyak," ujarnya.
Lindmeier menambahkan bahwa laporan mengenai serangan terhadap infrastruktur minyak di Bahrain dan Arab Saudi juga menimbulkan kekhawatiran akan adanya "paparan polusi regional yang lebih luas."
Perwakilan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) di Lebanon, Karolina Lindholm Billing, mengatakan lebih dari 100.000 orang telah mengungsi akibat serangan Israel dan perintah evakuasi dalam 24 jam terakhir, sehingga total warga yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya akibat konflik ini mencapai hampir 700.000 jiwa.
"Kami melihat deretan mobil di sepanjang jalan dengan orang-orang yang tidur di dalamnya," ungkapnya. "Sebagian besar melarikan diri dengan tergesa-gesa hampir tidak membawa apa-apa. Mereka mencari perlindungan di Beirut, wilayah Gunung Lebanon, Lebanon utara, dan sebagian wilayah Bekaa."
Jean-Martin Bauer, direktur Layanan Analisis Pangan dan Gizi Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) PBB, memperingatkan tentang dampak konflik di Selat Hormuz dan Selat Bab El-Mandeb di lepas pantai Tanduk Afrika.
"Dua titik utama dalam tatanan rantai pasok global terdampak oleh pembatasan dan risiko, sehingga perusahaan pelayaran mengalihkan layanan mereka," sebut Bauer, seraya menambahkan bahwa kebutuhan akan asuransi risiko perang untuk pengiriman menimbulkan biaya tambahan sebesar 2.000 hingga 4.000 dolar AS per kontainer di wilayah-wilayah yang berisiko.
*1 dolar AS = 16.879 rupiah
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

FBI tak temukan bukti keterlibatan Arab Saudi dalam 9/11
Indonesia
•
13 Sep 2021

Kapasitas energi terbarukan China naik pada 2021, capai 1,06 miliar kilowatt
Indonesia
•
01 Feb 2022

Iran desak Washington kembali ke perjanjian nuklir 2015
Indonesia
•
07 Feb 2021

Jerman minta Polandia tangkap tersangka asal Ukraina terkait sabotase jalur pipa gas Nord Stream
Indonesia
•
15 Aug 2024


Berita Terbaru

AS intensifkan pengumpulan intelijen militer di lepas pantai Kuba
Indonesia
•
11 May 2026

Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"
Indonesia
•
11 May 2026

Para pemimpin ASEAN rilis pernyataan bersama soal krisis Timur Tengah di KTT ASEAN 2026
Indonesia
•
10 May 2026

AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi
Indonesia
•
08 May 2026
