
‘Shutdown’ picu kekurangan staf, waktu tunggu di bandara AS tembus 4 jam

Sejumlah agen Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE) berpatroli di Bandara La Guardia di New York, Amerika Serikat (AS), pada 23 Maret 2026. Para agen ICE membantu di pos pemeriksaan keamanan bandara yang sibuk di tengah penutupan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS yang telah berlangsung sebulan lebih. (Xinhua/Zhang Fengguo)
Penutupan berkepanjangan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyebabkan sejumlah bandara utama melaporkan tingkat ketidakhadiran pegawai administasi hanya sebesar 40 hingga 50 persen.
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Waktu tunggu di pos pemeriksaan keamanan bandara di Amerika Serikat (AS) mencapai level terlama dalam sejarah 24 tahun Administrasi Keamanan Transportasi (Transportation Security Administration/TSA) di tengah penutupan (shutdown) berkepanjangan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, dengan waktu tunggu melebihi empat jam di beberapa lokasi, kata seorang pejabat senior pada Rabu (25/3).
Sejumlah bandara utama melaporkan tingkat ketidakhadiran pegawai TSA sebesar 40 hingga 50 persen, ujar Pelaksana Tugas Administrator TSA, Ha Nguyen McNeill, dalam sidang Komite Keamanan Dalam Negeri Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS.
"Tingkat gangguan seperti ini belum pernah terjadi dan tidak dapat diterima, serta secara signifikan melemahkan keamanan sistem transportasi AS," kata McNeill.
Dia menambahkan bahwa banyak pekerja kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, dengan sebagian tidak mampu membayar tagihan utilitas dan menghadapi pemutusan layanan. Pekerja lain menerima pemberitahuan pengusiran, tidur di mobil, atau menjual darah dan plasma demi memenuhi kebutuhan hidup.
Sejak penutupan dimulai pada pertengahan Februari, lebih dari 480 pegawai TSA telah mengundurkan diri, ujarnya.
Seiring bandara-bandara besar terus menghadapi antrean keamanan selama berjam-jam akibat kekurangan staf selama penutupan, Partai Demokrat dan Partai Republik saling melempar kesalahan pada Rabu.
"Anggota senat dari Partai Republik kini telah sembilan kali memblokir pendanaan TSA. Mereka sepenuhnya bertanggung jawab atas kekacauan yang dialami para pelancong," tulis Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, di platform X.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengkritik Partai Demokrat. "Salahkan Partai Demokrat atas kekacauan di Bandara. Mereka ingin Negara kita berkinerja buruk. Mereka ingin Negara kita gagal," tulis Trump di platform Truth Social.
Kebuntuan ini terjadi setelah seruan Partai Demokrat untuk mereformasi Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (Immigration and Customs Enforcement/ICE) menyusul penembakan fatal terhadap dua warga negara AS oleh agen federal di Minneapolis pada Januari. Partai Republik menolak tuntutan tersebut, memicu kebuntuan yang menyebabkan pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS terhenti pada 13 Februari.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi sumbang 500 juta dolar AS untuk tangani pandemik corona
Indonesia
•
17 Apr 2020

AS kirim 3.000 tentara ke Eropa Timur dalam beberapa hari mendatang
Indonesia
•
02 Feb 2022

Iran: Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh tewas akibat "proyektil jarak pendek"
Indonesia
•
04 Aug 2024

PM Kamboja: ASEAN harus kerja sama pastikan perdamaian, stabilitas, kemakmuran regional
Indonesia
•
13 Sep 2022


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
